- Juni 20, 2025
HSN 2025: Susu Lokal Jadi Pilar Pembangunan SDM, Kementan Tegaskan Komitmen Hilirisasi dan Konsumsi Nasional
Bogor – Peringatan Hari Susu Nusantara (HSN) 2025 menjadi momentum penting bagi Kementerian Pertanian (Kementan) untuk mendorong peran strategis susu lokal dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) Indonesia yang sehat, cerdas, dan tangguh. Kegiatan ini digelar di Kawasan Usaha Ternak, Bogor, Jawa Barat, Rabu (18/6), melalui platform _Tani On Stage_ (TOS), media sosialisasi dan penyebaran informasi Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementan sebagai bentuk publikasi capaian dan strategi hilirisasi sektor peternakan.
Direktur Hilirisasi Hasil Peternakan Kementan, Makmun, yang juga bertindak sebagai moderator acara, menekankan bahwa HSN 2025 bukan sekadar perayaan seremonial, melainkan panggung edukatif hasil kolaborasi antara pemerintah, industri pengolahan susu, dan koperasi peternak. “Kami ingin menyampaikan pesan kuat: susu lokal harus menjadi kebiasaan nasional. Konsumsi susu harian bukan hanya mendukung tumbuh kembang anak, tapi juga meningkatkan daya saing bangsa,” tegasnya.
Makmun menambahkan bahwa target pemerintah adalah memenuhi kebutuhan susu segar nasional hingga 8,5 juta ton pada 2029 melalui program Peningkatan Produksi Susu dan Daging Nasional (P2SDN). Peringatan HSN tahun ini juga menjadi panggilan untuk memperkuat sinergi antara peternak, koperasi, dan industri hilir.
Tenaga Ahli Menteri Pertanian Bidang Hilirisasi Produk Peternakan, Prof. Ali Agus, turut menyoroti rendahnya tingkat konsumsi susu di Indonesia, yang hanya 16,8 kg/kapita/tahun. “Itu setara tiga sendok makan per hari. Padahal, susu adalah life connector sejak lahir,” katanya. Ia menggagas konsep “Susu Segar untuk Generasi Bersinar” sebagai cerminan generasi yang sehat, cerdas, glowing, dan kuat.
Prof. Ali juga memaparkan Panca Krida Persusuan Nasional sebagai fondasi pembangunan industri susu: sinergi kebijakan lintas sektor, optimalisasi lahan, kemandirian bibit dan pakan, hilirisasi produk, serta penguatan kelembagaan peternak. Dalam roadmap 2025–2030, Indonesia menargetkan kemandirian dan ekspansi pasar susu lokal, dimulai dari pengadaan 300.000 sapi perah dan pembangunan infrastruktur pendukung seperti cold storage, BIB, dan Poskeswan.
Sementara itu, Guru Besar Ilmu dan Teknologi Susu IPB, Prof. Epi Taufik, menegaskan bahwa susu memiliki nilai strategis dalam program prioritas nasional Makan Bergizi Gratis (MBG). “Susu bukan cuma bergizi, tapi fungsional. Lebih dari 100 komponen bioaktif di dalamnya memperkuat imunitas, otak, dan tulang anak,” ujarnya. Ia menyebut MBG sebagai peluang besar untuk membangun pasar nasional produk susu sekaligus mengangkat kesejahteraan peternak melalui kemitraan dengan industri.
Prof. Epi juga menekankan bahwa pelibatan susu dalam MBG bukan pilihan, tetapi keniscayaan. “Susu adalah bagian dari teologi, disebut dalam Al-Qur’an, ada di semua panduan gizi dunia. Sudah waktunya — wis wayahe — susu lokal naik panggung nasional,” ucapnya penuh semangat.
Acara yang diramaikan oleh pembagian susu gratis, lomba mewarnai anak, serta permainan edukatif seputar gizi ini disambut antusias masyarakat. Ratusan anak sekolah, guru, dan warga sekitar hadir, membuktikan tingginya minat terhadap edukasi gizi berbasis pangan lokal.
Melalui peringatan ini, Kementan berharap terjadi perubahan pola konsumsi masyarakat, penguatan sistem produksi susu lokal, dan terbentuknya ekosistem hilirisasi yang mendukung keberlanjutan industri peternakan Indonesia. “Susu bukan hanya minuman, tapi investasi masa depan bangsa,” tutup Makmun.