- April 17, 2026
Kabupaten Sumenep Mantap Bersinergi: Sumenep Siap Maju Bersama di Kegiatan HDDAP
Sumenep, Jawa Timur – Pemerintah Kabupaten Sumenep bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan tim Horticulture Development in Dryland Areas Project (HDDAP) Kementrian Pertanian RI, serta berbagai pemangku kepentingan menggelar audiensi di Kantor Bupati Sumenep Kamis, 16 April 2026 sebagai langkah penguatan sinergi dalam pengembangan hortikultura lahan kering. Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk menyatukan komitmen lintas sektor dalam mendorong transformasi pertanian di Kabupaten Sumenep.
Program HDDAP di Sumenep difokuskan pada tiga komoditas utama, yaitu bawang merah, cabai, dan pisang, yang dikembangkan melalui pendekatan klaster di sejumlah kecamatan, di antaranya Batuputih, Ambunten, Guluk-Guluk, Pragaan, Rubaru, dan Pasongsongan. Hingga saat ini, progres menunjukkan perkembangan positif, termasuk percepatan verifikasi dan pembentukan klaster, capaian luas lahan yang telah memenuhi sekitar 64 persen dari target yang ditetapkan, serta telah disusunnya jadwal pelaksanaan (jadwal palang) guna memastikan tahapan kegiatan berjalan tepat waktu dan terkoordinasi dengan baik.
Wakil Bupati Sumenep, Imam Hasyim, menegaskan pentingnya kolaborasi dalam mendukung keberhasilan program HDDAP di Kabupaten Sumenep. Dalam sambutannya, Ia menyampaikan bahwa pembangunan pertanian tidak dapat dilakukan secara terpisah-pisah. “Perkembangan pertanian tidak bisa dilakukan secara parsial,” ujarnya. Seluruh sektor harus bergerak bersama secara terpadu, tidak hanya berfokus pada satu aspek, tetapi saling terhubung dari hulu hingga hilir agar hasilnya lebih optimal dan berkelanjutan.
Direktur Hilirisasi Hasil Hortikultura Kementerian Pertanian RI, Freddy Lumban Gaol, menekankan pentingnya perubahan cara pandang dalam menjalankan program. “Yang pertama harus diubah adalah mindset, jangan terpaku pada narasi keluhan, tetapi mulai membangun cara berpikir yang berorientasi pada solusi dan pengembangan,” tegasnya. Ia juga menambahkan bahwa melalui HDDAP diharapkan terbentuk kelembagaan petani yang kuat melalui Kelembagaan Ekonomi Pertanian (KEP) yang mampu mengelola usaha dari hulu hingga hilir. “Paling tidak melalui HDDAP ini ada tongkat estafetnya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Freddy Lumban Gaol menyoroti pentingnya kemitraan dengan pihak offtaker. “Kita harus membangun hubungan yang kuat dan bekerja sama secara berkelanjutan dengan offtaker,” ujarnya. Ia menjelaskan bahwa keberadaan offtaker menjadi kunci dalam menciptakan kepastian pasar. Dengan adanya kemitraan tersebut, petani diharapkan memperoleh kepastian harga sehingga tidak lagi menghadapi fluktuasi harga yang merugikan.
Dari sisi provinsi, Kabid Hortikultura Jawa Timur, Pudjiati Ningsih, menyampaikan komitmen kuat dalam mendukung pelaksanaan HDDAP di Sumenep. “Meski Sumenep bukan sentra utama produksi, namun potensinya sangat tinggi hingga mampu menembus pasar ekspor,” ujarnya. Ia juga menegaskan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Timur siap mendukung penuh dan terbuka untuk berkoordinasi kapan pun dengan tim HDDAP guna memastikan program berjalan optimal dan berkelanjutan.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Sumenep, Chainur Rasyid, menekankan pentingnya semangat bersama dalam pelaksanaan program ini. “Bersemangat juang agar HDDAP dapat dirasakan manfaatnya oleh petani,” ungkapnya. Ia juga menyoroti potensi wilayah Sumenep yang didukung oleh sumber daya alam, termasuk komoditas unggulan yang telah menembus pasar ekspor.
Dari sisi kelembagaan, Kepala Dinas Koperasi, Ramli, menyampaikan pentingnya dukungan kebijakan yang berkelanjutan untuk memperkuat sinergi program. “Kami berharap adanya kebijakan yang dapat menjadi penguat dalam mengintegrasikan program ini dengan kebijakan nasional, sehingga sinergi yang terbangun dapat berjalan secara berkesinambungan,” ujarnya.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan di Kecamatan Ambunten. Di lokasi tersebut, bibit cabai lokal telah disiapkan untuk mendukung kegiatan HDDAP, diikuti dengan kesiapan lahan tanam sebagai bagian dari pengembangan klaster. Sesi diskusi bersama petani dan pemangku kepentingan lainnya pun di buka, berbagai isu dan tantangan di lapangan di bahas, mulai dari kebutuhan peningkatan sarana dan prasarana, pengelolaan budidaya, hingga perlindungan tanaman. Dari sesi diskusi ini, diperoleh sejumlah masukan penting yang menjadi bahan tindak lanjut.
Melalui semangat “HDDAP Sumenep Siap Maju Bersama”, sinergi yang terbangun diharapkan menjadi fondasi kuat dalam mewujudkan pertanian yang lebih produktif, modern, mandiri, berkelanjutan dan adaptif terhadap perubahan iklim.