- Mei 27, 2023
Sinergi Pengembangan Varietas Unggul, Startegi Direktorat Jenderal Hortikultura untuk Swasembada Bawang Putih Nasional
Bawang putih merupakan salah satu komoditas penting dalam subsektor hortikultura. Bawang putih banyak dimanfaatkan masyarakat sebagai bumbu masak untuk memberikan rasa gurih dan aroma kuat, serta digunakan sebagai obat-obatan, sehingga menjadi salah satu kebutuhan pokok masyarakat yang harus terpenuhi. Pada tahun 2022 konsumsi bawang putih sebesar 508,35 ribu ton dan diproyeksikan meningkat menjadi 517,93 ribu ton pada tahun 2023 ini. Tingginya tingkat konsumsi perlu diimbangi dengan ketersedian stok yang memadai. Badan Pusat Statistik melaporkan bahwa produksi bawang putih tahun 2022 mencapai 30,194 ribu ton. Jumlah ini masih jauh lebih rendah dari tingkat konsumsi. Selama ini untuk memenuhi kebutuhan masih dilakukan dengan melakukan impor.
Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Hortikultura terus berupaya meningkatkan produksi bawang putih melalui upaya intensifikasi dan ekstensifiksi, mengembangkan teknologi budidaya serta mendorong pengembangan varietas bawang putih unggul dari dalam negeri. Hingga saat ini, Indonesia telah memiliki 9 varietas unggul nasional bawang putih yang memiliki berbagai keunggulan. Beberapa varietas ini merupakan hasil pengembangan terbaru yang didaftarkan sebagai varietas pada tahun 2021-April 2023. Salah satunya adalah varietas Geol Temanggung Agrihorti yang memiliki keunggulan siung yang cukup besar dan potensi produksi mencapai 8,45 – 13,62 ton bobot basah per hektar. Varietas ini menjadi salah satu kebanggaan para petani di Kabupaten Temanggung.
Direktorat Jenderal Hortikultura bersama pemerintah daerah setempat terus berupaya mengembangkan potensi bawang putih tersebut. Selain itu juga melakukan pengumpulan berbagai plasma nutfah bawang putih untuk didorong juga menjadi alternatif varietas unggul baru. Melalui Direktorat Perbenihan Hortikultura dan Direkotrat Sayur dan Tanaman Obat, dilakukan pengumpulan koleksi plasma nutafh dari berbagai wilayah baik dalam maupun luar negeri untuk kemudian bersama-sama dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP) serta pemerintah daerah untuk dilakukan langkah pemuliaan tanaman hingga terbentuk varietas unggul bawang putih baru.
Pentingnya penggunaan varietas unggul ini telah disampaikan oleh Direktur Jenderal Hortikultura, Dr. Ir. Prihasto Setyanto M.Sc dalam berbagai kesempatan bahwa penting sebelum menanam itu menggunakan benih bermutu dari varietas unggul, semua diawali dari pemilihan dan penyediaan benih, karena 50% keberhasilan budidaya ditentukan dari kualitas benih yang ditanam.
Sesuai dengan amanat undang-undang bahwa pemerintah berkewajiban memberikan jaminan sarana hortikultura, termasuk di dalamnya adalah benih yang diedarkan memenuhi standar mutu dan perizinan berusaha. Melalui Undang-Undang No.13 tentang Hortikultura, dilakukan standarisasi mutu benih dengan diwajibkannya semua varietas baru hasil pemuliaan dalam negeri, varietas lokal maupun introduksi untuk didaftarkan/dilepas. Pendaftaran / Pelepasan varietas menjadi bentuk pendataan varietas dalam rangka pengawasan peredaran benih. Dengan semakin banyaknya varietas baru yang didaftarkan harapannya terjadi peningkatan keragaman varietas dalam rangka menyediakan benih bermutu varietas unggul untuk mendukung peningkatan produksi bawang putih.
Sebagai langkah awal dilakukan penanaman beberapa koleksi plasma nutfah yang telah diperoleh Direktorat Jenderal Hortikultura. Terdapat dua kultivar bawang putih asal introduksi dari Taiwan yang berdasarkan hasil analisa uji DNA yang dilakukan oleh Pusat Kajian Hortikultura Tropika (PKHT) IPB dinyatakan berbeda dari varietas bawang putih yang telah ada. Pengamatan yang dilakukan pada hari Sabtu 20 Mei 2023 oleh tim Direktorat Perbenihan Hortikultura, Direktorat Sayur dan Tanaman Obat, BRIN, BSIP, Dinas Pertanian dan Perkebunan Provinsi Jawa Tengah, Dinas Ketahanan Pangan, Pertanian dan Perikanan Kabupaten Temanggung dan petani setempat menunjukkan hasil yang baik. Dari dua kultivar tersebut menunjukkan potensi produksi yang cukup tinggi yaitu 8-14 ton bobot umbi basah per hektar. Selain itu juga memiliki ukuran umbi cukup besar dengan jumlah siung rata-rata 5-10 siung.
Direktur Perbenihan Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi Nashwari, SP., M.Si mengungkapkan bahwa pengembangan varietas unggul bawang putih perlu terus dilakukan dengan diperkuat sektor penangakaran benihnya. Semua ini perlu dilakukan secara beriringan agar secara bertahap kemandiran bawang putih dapat tercapai. Jika varietas unggul tidak diimbangi dengan sistem penangkaran benih yang baik maka ketersediaan benih bermutu bawang putih akan terhambat dan berujung pada ketergantungan pemenuhan bawang melalui impor.
Heru, petani bawang putih Desa Parakan Kabupaten Temanggung sangat mendukung pengembangan kultivar bawang putih baru ini, karena hasil produksinya yang unggul dan sama unggulnya dengan varietas lokal yang ada sehingga tidak menyulitkan para petani dalam melakukan budidaya. Hanya memerlukan sedikit penyesuaian pola penanaman saja.
Kolaborasi berbagai stakeholder sangat penting dengan adanya sinergi berbagai sektor mulai dari riset, budidaya, hingga pemasaran maka jalan terjal untuk mencapai swasembada bawang putih akan mampu dilalui dengan baik.
Kontributor:
Wiwi Sutiwi
Roni Ramadhan
Abdul Rahman