- Maret 20, 2025
Kementan Fokus Pada Percepatan LTT untuk Swasembada Pangan Berkelanjutan
JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah strategisnya untuk mewujudkan swasembada pangan nasional melalui kebijakan Luas Tambah Tanam (LTT).
Target utama kebijakan ini adalah meningkatkan produksi padi hingga Mei 2025, dengan harapan Indonesia dapat menghindari impor beras pada tahun 2025.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa percepatan LTT harus dilakukan secara masif, dengan dukungan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) di seluruh Indonesia.
Dalam arahannya, Mentan Amran menyampaikan tiga langkah strategis yang harus ditempuh untuk mencapai swasembada pangan, yaitu peningkatan produktivitas pertanian, peningkatan Indeks Pertanaman (IP), dan memperluas Luas Tambah Tanam (LTT).
“Langkah pertama yang harus dilakukan adalah meningkatkan produktivitas pertanian, kedua meningkatkan Indeks Pertanaman (IP), dan ketiga memperluas Luas Tambah Tanam (LTT). Ketiga strategi ini telah terbukti mampu membawa Indonesia mencapai swasembada di tahun-tahun sebelumnya,” ujar Mentan Amran.
Selain itu, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menambahkan bahwa keberhasilan program ini memerlukan koordinasi yang baik antara seluruh pihak terkait, mulai dari tingkat pusat hingga daerah.
Pemerintah pun menargetkan produksi beras sebesar 32 juta ton pada tahun 2025, dengan luas lahan tanam sekitar 17 juta hektar. Dalam upaya ini, Kementan fokus pada penggunaan benih genjah (berumur pendek) serta memastikan ketersediaan sarana pertanian yang memadai.
Pada acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 11 yang digelar pada Jumat (21/03/2025), hadir narasumber dari Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, yaitu Ketua Tim Kerja Program Ditjen Tanaman Pangan, Muhammad Ronaldi Bahri Yugo.
Ia menegaskan bahwa Kementan saat ini fokus pada kebijakan LTT sebagai bagian dari program swasembada pangan berkelanjutan.
“Kebijakan LTT bertujuan untuk meningkatkan produksi pangan melalui perluasan area tanam. Apalagi saat ini, Presiden telah menetapkan empat fokus utama pemerintah, yaitu pangan, gizi, ketahanan energi, dan hilirisasi,” ungkapnya.
Untuk mencapai target tersebut, perencanaan implementasi dilakukan secara bertingkat, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga kecamatan.
Ronaldi menambahkan jika salah satu strategi peningkatan pertanaman adalah penggunaan benih genjah (berumur pendek) serta memastikan ketersediaan sarana pertanian yang memadai.
Sedangkan di lapangan, pelaksanaan program LTT menghadapi beberapa kendala, salah satunya adalah keterbatasan lahan pertanian, seperti yang dialami oleh penyuluh pertanian di Kabupaten Bogor.
Untuk mengatasinya, strategi yang dilakukan adalah meningkatkan Indeks Pertanaman (IP) melalui penggunaan benih unggul, pemenuhan sarana pertanian, serta ketersediaan air irigasi yang memadai.
Selain itu, penyediaan pupuk dan benih unggul juga menjadi faktor kunci dalam keberhasilan peningkatan IP, tambahnya.
Kementan optimistis dengan langkah-langkah ini, Indonesia akan dapat mencapai swasembada pangan secara berkelanjutan dan meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.