- Februari 1, 2024
Gerak Cepat, Kementan Dongkrak Produksi Padi Nasional
JAKARTA – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman terus bergerak cepat untuk mengakselerasi produksi pangan nasional. Pembenahan secara besar-besaranpun terus dilakukan Kementerian Pertanian (Kementan) beserta jajarannya, guna peningkatan produksi pangan strategis utamanya padi dan jagung.
Mentan Amran menegaskan bahwa pihaknya tak pernah berhenti berupaya untuk menjaga ketahanan pangan dengan mengedepankan peningkatan produksi padi dan jagung.
“Kita fokus dalam peningkatan program padi dan jagung ini adalah untuk mancapai swasembada dan mengurangi impor”, tegasnya.
Sementara Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP), Dedi Nursyamsi menyampaikan bahwa perubahan iklim global dan dampak Covid-19 serta perang Rusia Ukraina menyebabkan kelangkaan pupuk.
Hal ini kata Dedi, mengakibatkan penurunan produksi pangan dan meningkatkan nilai impor di Indonesia, sehingga harus digenjot peningkatan produksi padi dan jagung dalam penyediaan pangan bagi 278 juta jiwa penduduk indonesia.
“Jadi solusi yang tepat kita musti genjot padi dan jagung sendiri sehingga tidak tergantung pada orang lain”, tegasnya. Sampai dengan Februari sebanyak 3,5 juta ton beras yang kita impor. Dan mulai tahun ini impor harus dikurangi, bahkan tahun berikutnya, tahun berikutnya lagi kita harus swasembada dan kita ekspor. Kementan bertekad untuk mengatasi permasalahan dalam negeri sehingga tahun 2025-2026, Indonesia harus swasembada, terutama untuk padi dan jagung”, ucapnya.
Pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) volume 04 dilaksanakan Selasa (30/01/2024) bertemakan “Strategi Swasembada Padi Berkelanjutan”, menghadirkan narasumber dari Balai Besar Pengujian Standar Instrumen Padi (BBPSI Padi), Zahara Mardiah yang menjelaskan bahwa diperkirakan tahun 2050 akan terjadi ledakan populasi mencapai 9 milyar lebih manusia, dan solusinya kita harus memproduksi pangan 60% lebih banyak lagi atau pertanian berkelanjutan. Pertanian berkelanjutan dapat dilakukan secara terus menerus hingga generasi selanjutnya dan selanjutnya.
Untuk total produksi padi di Indonesia saat ini sebesar 53,6 juta ton/Ha, sebelumnya pada tahun 2022 sudah mencapai 54,7 juta ton/Ha, sedangkan konsumsi beras per kapita sebesar 1,55 kg/minggu, ujarnya.
Zahara mengungkapkan tantangan dalam mewujudkan swasembada padi berkelanjutan diantaranya adalah perubahan iklim, alih fungsi lahan, belum menerapkan praktik pertanian yang baik atau Good Agriculture Practices (GAP) dan pengelolaan pascapanen yang tidak tepat. Selain itu juga akibat susut hasil selama proses pascapanen padi juga berpengaruh. Dengan strategi meminimalkan susut hasil pascapanen, maka dapat mendukung swasembada padi berkelanjutan, jelas Zahara.
Praktik pascapanen yang baik dapat mempersiapkan fondasi yang solid untuk hasil panen yang sukses, sementara praktek pascapanen yang efisien dan efektif menjamin kualitas dan kuantitas panen yang optimal,. Kedua tahapan ini saling melengkapi dan mendukung satu sama lain dalam menciptakan siklus pertanian yang berkelanjutan. Kedua aspek tersebut tidak hanya meningkatkan hasil akhir, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi petani, urainya.
Terakhir, Zahara menjelaskan bahwa praktik pascapanen yang tidak tepat berpotensi mengakibatkan susut hasil hingga 20% dan susut hasil selama proses pascapanen padi berpotensi pada kerugian nasional hingga mencapai 25 Triliun rupiah. Selain itu juga praktik pascapanen padi yang tepat sangat penting diketahui untuk menciptakan swasembada padi berkelanjutan. (HV/NF)