- Februari 13, 2026
Adidaya Institute: Big Bang dan Big Push sebagai Strategi Kebijakan Prabowonomics
Jakarta — Adidaya Institute menegaskan Presiden Prabowo menggunakan pendekatan
kerangka kerja Big Bang dan Big Push dalam mengatasi problem kemiskinan di
Indonesia. Di mana Presiden Prabowo mengambil jalan cepat dan strategis untuk
memecahkan problem kemiskinan mendasar dengan berfokus pada pembangunan
manusia dan ekonomi kerakyatan. Pendekatan ini dahulu diperkenalkan oleh seorang
pakar ekonomi pembangunan bernama Jeffrey Sachs. Walaupun demikian, menurut
Adidaya Institute, dasar pijakan kebijakan pembangunan di era pemerintahan Prabowo
tetaplah mengacu pada konstitusi UUD 1945.
“Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menjalankan strategi kebijakan yang dapat
dibaca sebagai big bang dalam pelaksanaan dan big push dalam substansi. Artinya,
negara bergerak cepat, serentak, dan berskala nasional untuk memecahkan masalah
mendasar bangsa—namun tetap fokus pada investasi pembangunan manusia dan
ekonomi rakyat, bukan sekadar proyek satuan,” ucap Manajer Ekonomi Pembangunan
Adidaya Institute, Bramastyo B. Prastowo dalam dialog media yang berlangsung Selasa
(10/2) siang di kantor Adidaya Institute.
Bram menjelaskan Presiden Prabowo memiliki sejumlah program prioritas yang
sebenarnya didesain untuk mengatasi kemiskinan secara terintegrasi dan komprehensif.
Program-program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), Koperasi Desa/ Kelurahan Merah
Putih (KDKMP) dan Kampung Nelayan, menurutnya, merupakan paket terintegrasi yang
menyelesaikan seluruh aspek kemiskinan mendasar.
“Tujuh program prioritas—Makan Bergizi Gratis (MBG), Cek Kesehatan Gratis (CKG),
Sekolah Rakyat, 3 Juta Rumah/FLPP, Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih
(KDKMP), Lumbung Pangan, dan Kampung Nelayan—bukanlah “tumpukan program
terpisah”. Ini adalah paket terintegrasi yang menargetkan simpul kemiskinan
multidimensi sekaligus: gizi, kesehatan, pendidikan, aset rumah, akses pasar desa, rantai
pasok pangan, dan produktivitas pesisir dapat diatasi dengan baik,” jelas dia.
Bagi Adidaya Institute, kerangka kerja ini sejalan dengan evolusi pemikiran ekonom
Jeffrey Sachs via strategi ’reform cepat’ yang dulu dikenal sebagai big bang lalu
berkembang menjadi big push era pembangunan berkelanjutan (SDGs). Di mana terjadi
lompatan investasi terkoordinasi di human capital, sistem layanan publik, dan ekonomi
lokal untuk memutus ’perangkap kemiskinan’. Dengan kata lain, ungkap Bram,
pendekatan Presiden Prabowo dapat dipahami sebagai big bang gaya eksekusi yang
1membawa big push gaya isi kebijakan. Di tangan Presiden Prabowo, negara muncul
dan hadir sangat kuat sebagai perencana, koordinator, dan investor layanan-layanan
dasar.
”Seluruh program prioritas tersebut juga memenuhi tiga kriteria kerangka kerja Big Bang
Reform. Pertama, program dilakukan secara massif (nasional). Kedua, dilaksanakan
dengan cepat (speed). Dan yang terakhir, tidak bisa dihentikan atau irreversible,”
sambungnya.
Namun demikian, skala besar kebijakan Presiden selalu membawa konsekuensi
kesiapan dan kinerja mesin birokrasi negara. Sebab, menurut Bram, program sebesar
ini hidup-mati bukan di ruang seremoni, melainkan di kantor dinas, sekolah, puskesmas,
dapur layanan, pengadaan, gudang, cold storage, koperasi, hingga unit lapangan pesisir.
Karena itu, ungkapnya, bila publik ingin mendukung keberhasilan program pro-rakyat ini,
pengawasan harus diarahkan pada kualitas eksekusi, bukan sekadar ramai di ruang
perdebatan politik.
“Big push tidak bisa ditopang oleh menteri saja. Jika yang macet adalah eksekusi,
maka yang harus dibenahi adalah ekosistem pelaksanaannya—Menteri dan
birokrasi sekaligus,” tegas dia.
Meskipun demikian, bagi Adidaya, evaluasi yang sehat bukan hanya soal reshuffle
kabinet, melainkan juga reshuffle eksekusi. Yaitu perbaikan rantai komando, standar
layanan minimum nasional, satu data, transparansi biaya satuan, penguatan SDM garis
depan, serta audit dan respons keluhan yang cepat.
Adidaya pun menawarkan mekanisme kepada publik untuk mengawal program prioritas
Presiden Prabowo ini. Mekanismenya disebut Rapor Negara (Rapor Birokrasi) dengan
enam (6) indikator sederhana, yaitu: Komando & koordinasi lintas instansi, standar
minimum layanan, Satu data & dashboard publik, Pengadaan–logistik–biaya satuan,
Kesiapan SDM garis depan dan Pengawasan & respons keluhan.
“Dengan kerangka Rapor Negara, dukungan publik menjadi dukungan yang cerdas:
mendukung arah program, menuntut mutu pelaksanaan, dan memastikan
lompatan kebijakan benar-benar menghasilkan dampak. Sebab perbedaan antara
“big push yang berhasil” dan “big push yang mengecewakan” selalu sama: disiplin
eksekusi dan kualitas birokrasi,” tutur dia.
Meski demikian, Bram tetap menekankan aspek masukan dari masyarakat atau feedback
loop untuk menyempurnakan strategi kebijakan big bang dan big push ini. Pasalnya
feedback loop ini memang menjadi keniscayaan dalam kerangka strategi Big Bang dan
Big Push. Sehingga, ungkap dia, pemerintah pun dapat secara terbuka mendapat
informasi yang sejelas-jelasnya dari lapangan. Dan, tentu saja bukan informasi yang
bersifat Asal Bapak Senang (ABS) dan penuh rekayasa.
2“Feedback loop menjadi suatu kemestian dalam kerangka ini. Sehingga segala evaluasi
dapat dilakukan sambil berjalan. Dengan demikian, pemerintah perlu terbuka
mendapatkan informasi yang sejelas-jelasnya di lapangan. Bukan Asal Bapak Senang
(ABS), karena itu akan mencelakakan Presiden Prabowo,” tegasnya.
Oleh karena itu, Adidaya Institute pun mendorong Presiden Prabowo dapat memilih
anggota kabinet yang bukan saja memahami desain dan strategi kerja Presiden, tetapi
juga memiliki kemampuan mengeksekusinya. Tujuannya, supaya para Pembantu
Presiden tersebut hadir sebagai penopang dan bukan justru malah menjadi penghambat
strategi Big Bang dan Big Push dalam mempercepat agenda kesejahteraan rakyat.
“Atas dasar itu pula lah, Presiden Prabowo perlu untuk memilih anggota kabinetnya yang
paham strategi ini dan bisa men-delivery (mengeksekusi) arah besar (kerja) Presiden,”
tutur dia.
______________________________
Narahubung Media:
Adidaya Institute
Bramastyo B. Prastowo – (085894295558)
3