- Oktober 15, 2025
Tingkatkan Nilai Tambah, Kementan Dorong Penyuluh Perkuat Hilirisasi Kopi
JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) menegaskan komitmennya dalam mendorong hilirisasi sebagai strategi utama memperkuat ekonomi pertanian rakyat. Hilirisasi dinilai mampu meningkatkan nilai tambah produk pertanian, sekaligus mengubah peran petani dari sekadar produsen bahan mentah menjadi pelaku industri pertanian desa.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan hilirisasi merupakan salah satu dari empat program prioritas Presiden Prabowo Subianto. Selain swasembada pangan, penyediaan pangan bergizi, dan pengembangan biofuel.
Menurutnya, transformasi pertanian dari hulu hingga hilir akan menjadi motor penggerak perekonomian nasional, sekaligus membuka jalan menuju Indonesia Emas 2045.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti menyampaikan apresiasinya terhadap semangat penyuluh yang terus mendorong hilirisasi di petani.
“Penyuluh bukan hanya pendamping, tetapi juga motor penggerak hilirisasi di lapangan. Kita ingin penyuluh tidak hanya mengajarkan budidaya, tapi juga membantu petani membaca pasar, memahami rantai nilai, dan mengelola usaha tani secara berkelanjutan,
ungkap Kabadan Santi.
Sementara, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, I Gst. Made Ngr Kuswandana menegaskan bahwa hilirisasi tidak dapat berjalan sendiri tanpa dukungan ekosistem penyuluhan yang solid.
“Sinergi antara kelompok tani, penyuluh, lembaga riset, dan pemerintah daerah adalah kunci. Hilirisasi bukan hanya urusan mesin dan produk, tapi juga perubahan mindset dan kolaborasi,” ujar Made.
Guna menindaklajutinya, pada acara Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 35, Selasa (14/10/2025) menghadirkan Rosyid Mukhlasin yang merupakan
penyuluh pertanian dari Kabupaten Semarang.
Dalam kesempatan tersebut Rosyid membagikan kisah suksesnya mendampingi 33 kelompok tani berbasis kopi robusta yang tergabung dalam Gapoktan Gunung Kelir dan Koperasi Tani Manunggal, dengan total 990 petani aktif yang mengelola 1.223 hektare lahan produktif.
Sebelumnya petani kami hanya menjual biji kopi basah seharga Rp14.000 per kilogram. Saat ini setelah dilakukan proses pengeringan dan grading, nilai jual meningkat hingga Rp62.000 per kilogram, ucap Rosyid.
Sedangkan untuk kopi pilihan yang diolah menjadi Fine Robusta atau nilai cupping 80 ke atas, harga bisa mencapai Rp80.000 per kilogram, dengan keuntungan bersih sekitar Rp14.700 per kilogram setelah dikurangi biaya pengolahan.
Rosyid juga menjelaskan tahapan hilirisasi yang dilakukan petani Gunung Kelir, mulai dari biji kopi kering hingga menjadi kopi sangrai dan produk siap saji.
Dari kopi sangrai premium yang dijual Rp200.000 per kilogram, setelah diolah menjadi 100 cangkir kopi siap saji dengan harga Rp10.000 per cangkir, petani bisa memperoleh laba hingga Rp600.000 per kilogram.
Keberhasilan tersebut tidak hanya soal alat pengolahan, tetapi juga hasil dari pendampingan intensif penyuluh dan kerja sama kelembagaan petani.
“Kami mulai memahami bahwa kopi bukan sekadar hasil panen, tapi sumber kehidupan baru bagi masyarakat desa. Dari biji, kita bisa membuka jalan menuju ekonomi yang lebih mandiri,” imbuhnya.
Acara Ngobras ini menjadi momentum penting untuk menegaskan bahwa hilirisasi adalah masa depan pertanian Indonesia. Penyuluh kini bukan hanya pendamping, tetapi juga penggerak inovasi dan ekonomi desa. Melalui kolaborasi lintas sektor dan pemanfaatan teknologi, petani diharapkan mampu menguasai seluruh rantai nilai dari kebun hingga ke pasar. (FB/NF)