- September 20, 2025
LKP 2:0, Inovasi Kementan Hadirkan Pemupukan Padi Tepat dalam Genggaman
JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) bekerja sama dengan Badan Riset dan Modernisasi Pertanian (BRMP) serta International Rice Research Institute (IRRI) mengembangkan Layanan Konsultasi Padi (LKP) sejak 2015. Inovasi ini kemudian ditingkatkan menjadi LKP 2.0, sebuah sistem digital berbasis prinsip Site Specific Nutrient Management (SSNM).
Menindaklanjutinya, Badan Penyuluhan Pertanian dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian pada Jumat, 19 September 2025 menggelar program rutin Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) Volume 30, dengan tema “Layanan Konsultasi Padi (LKP) 2.0: Rekomendasi Pemupukan Padi dalam Gengaman”.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa menggabungkan teknologi smart farming dalam pertanian adalah langkah maju menuju pertanian yang lebih efisien dan berdaya saing.
Sementara Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menyampaikan bahwa digitalisasi merupakan jawaban atas keterbatasan penyuluh di lapangan. Kami ingin penyuluh dan petani semakin mudah mengakses teknologi.
“Dengan adanya aplikasi ini, maka biaya produksi bisa ditekan, hasil meningkat dan pendapatan petani bertambah. LKP 2.0 adalah contoh nyata digitalisasi yang langsung berdampak ke petani,” ucap Kabadan Santi.
Sedangkan menurut Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, I GST. Made NGR. Kuswandana mengatakan bahwa LKP 2:0 lahir dari kebutuhan nyata.
“Selama ini penyuluh sering terkendala dalam memberikan rekomendasi pemupukan yang tepat. Harapannya, penyuluh bisa lebih fokus mendampingi petani, sementara urusan dosis pupuk sudah terbantu dengan sistem ini,” ungkap Made.
Hadir sebagai narasumber MSPP, Pengawas Benih Tanaman dari BRMP Jawa Barat, Nia Romania yang mengatakan bahwa implementasi LKP 2.0 sangat membantu penyuluh dalam pendampingan. Di lapangan, petani sering bingung soal dosis pupuk.
Dengan adanya LKP, penyuluh lebih mudah memberi arahan karena rekomendasi sudah keluar berdasarkan data lahan dan varietas. Dampaknya, efisiensi meningkat dan produktivitas pun bisa lebih terukur,” ungkap Nia.
Nia menambahkan bahwa pemupukan hijau menekankan pada 6T. Yaitu, tepat jenis, tempat jumlah, tepat waktu, tepat tempat, tepat cara, dan tepat mutu. Kita juga perlu mengutamakan sumber yang ramah lingkungan seperti kompos, agar ekosistem tetap seimbang.
Melalui LKP 2.0, penyuluh lebih mudah memberi rekomendasi yang sesuai kebutuhan petani, sehingga efisiensi meningkat, hasil lebih baik, dan tujuan swasembada pangan bisa tercapai, ujar Nia.
Menurut Senior Specialist Digital Tools Extension IRRI, Tri Selasa Pagianti menjelaskan tentang pentingnya pemanfaatan teknologi digital. Dengan LKP 2.0, petani bisa mendapatkan rekomendasi pemupukan langsung dari genggaman tangan. Teknologi ini dirancang sederhana agar mudah diakses, namun di baliknya ada riset panjang yang membuat rekomendasi lebih akurat dan sesuai dengan kondisi lahan petani.
LKP 2.0 dirancang agar petani bisa mendapatkan rekomendasi pemupukan langsung di genggaman tangan mereka. Prinsipnya sangat sederhana, sesuai kebutuhan tanaman, dosis yang tepat, dan waktu yang tepat. Bahkan saat offline, aplikasi ini tetap bisa memberikan panduan, ungkap Tri.
Harapan kami, semakin banyak penyuluh dan petani memanfaatkannya, semakin cepat kita menuju pertanian modern yang produktif dan berkelanjutan.
Testimoni penyuluh dan petani yang telah menggunakan LKP juga disampaikan melalui MSPP. Mereka menilai aplikasi ini membuat proses pendampingan lebih efektif karena penyuluh tidak lagi disibukkan oleh administrasi berlebihan. Waktu yang ada bisa digunakan untuk mendampingi petani secara langsung di sawah.
Dengan berbagai keunggulan tersebut, Kementan optimis bahwa penerapan LKP 2.0 akan menjadi tonggak penting dalam akselerasi produksi padi nasional. Langkah ini sekaligus mendukung program swasembada pangan yang terus dicanangkan pemerintah. (FB/NF)