- Maret 1, 2025
Sektor Perkebunan: Tantangan dan Peluang bagi Penyuluh Pertanian Wujudkan Swasembada Pangan
JAKARTA – Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menyampaikan harapannya agar Indonesia dapat mencapai swasembada pangan, khususnya padi dan jagung, dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Menurutnya, selain menekan impor, pemerintah juga perlu memperkuat beberapa komoditas pertanian lainnya, termasuk komoditas perkebunan, agar dapat diekspor dan menambah devisa bagi negara.
“Kita juga harus mampu menekan impor dan memperkuat beberapa komoditas pertanian lainnya termasuk komoditas perkebunan untuk dapat diekspor sehingga menambah devisa bagi negara,” ujar Mentan Amran.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widiarsanti, menekankan bahwa subsektor perkebunan memiliki peran strategis dalam perekonomian nasional. Menurutnya, sektor perkebunan tidak hanya berkontribusi terhadap ekspor dan ketahanan pangan, tetapi juga dalam penciptaan lapangan kerja serta peningkatan kesejahteraan masyarakat.
“Kebijakan pembangunan sektor perkebunan harus dirancang secara komprehensif untuk menjawab berbagai tantangan dan memanfaatkan peluang yang ada,” ujarnya.
Pada acara Mentan Sapa Petani Penyuluh (MSPP) Volume 08, Jumat (28/02/2024), bertemakan “Kebijakan Pembangunan Sektor Perkebunan: Tantangan dan Peluang bagi Penyuluh Pertanian”, perwakilan dari Ditjen Perkebunan, Agnes, memaparkan bahwa total nilai ekspor nasional mencapai Rp3.438,4 triliun. Dari jumlah tersebut, sektor non-pertanian menyumbang 86,30%, sementara sektor pertanian berkontribusi sebesar 13,70%, di mana 92,96% berasal dari sektor perkebunan.
Agnes juga mengungkapkan hasil Evaluasi Produksi Akhir Giling Tahun 2024, yang mencatat luas areal panen mencapai 520.823 hektar dengan produksi tebu sebesar 33.216.612 ton dan rendemen 7,42%, menghasilkan gula kristal putih (GKP) sebanyak 2.456.514 ton.
“Luas areal mengalami peningkatan sebesar 3,18%, dan rendemen meningkat sebesar 1,47% dibandingkan tahun 2023. Produksi tebu mengalami kenaikan 6,99%, sementara produksi gula meningkat sebesar 8,56%. Peningkatan ini dipengaruhi oleh anomali El Nino medium, di mana musim kemarau yang terjadi masih tergolong kemarau basah,” jelas Agnes.
Agnes menyoroti bahwa komposisi tanaman ratoon masih di atas 75%, sehingga diperlukan upaya peremajaan (bongkar ratoon) untuk meningkatkan produktivitas tebu. Selain itu, realisasi impor yang telah dilakukan juga perlu disesuaikan dengan semua persetujuan impor (PI) yang telah diterbitkan.
Dengan berbagai tantangan yang dihadapi, penyuluh pertanian memiliki peran penting dalam mendukung petani dan pelaku usaha perkebunan guna meningkatkan produktivitas serta mendorong ekspor hasil perkebunan. Melalui kebijakan yang tepat dan pendampingan yang intensif, diharapkan sektor perkebunan dapat semakin berkontribusi dalam pencapaian swasembada pangan dan pertumbuhan ekonomi nasional. (HV/NF)