- November 14, 2023
Ditjen Tanaman Pangan Kementan Akselerasi Produksi Padi dan Jagung
Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian (Kementan) berupaya melakukan percepatan peningkatan produksi dan akselerasi Padi-Jagung 2023-2024
melalui Optimalisasi dan Usulan
Anggaran Belanja Tambahan (ABT).
Direktur Jenderal (Dirjen) Tanaman Pangan, Suwandi mengatakan, usulan ABT itu juga termasuk percepatan program Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) di kabupaten/kota Indonesia.
Awalnya, kata dia, Ditjen Tanaman Pangan merancang optimalisasi anggaran untuk 2023 sebesar Rp1 triliun.
“Besaran anggaran itu digunakan untuk pembelian jagung, padi, Alsintan Pasca Panen, Combine Harvester Besar, Koordinasi dan Pendampingan, BSIP dan BPPSDMP,” kata Suwandi, Selasa 14 November 2023.
Untuk biaya pembelian jagung, lanjutnya, Ditjen Tanaman Pangan mencatat harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp390 miliar Rp750 juta dengan rincian benih jagung Rp180 miliar (volume 200.000 hektare dan harga satuan Rp900 ribu) dan saprodi jagung Rp210 miliar Rp750 juta (volume 150.000 hektare dan harga satuan Rp1.405.000).
“Pengembangan jagung 150 ribu hektare untuk peningkatan produktivitas di lokasi PAT dan 50 ribu hektare untuk peningkatan IP,” ungkapnya.
Kemudian pada pembelian padi, tercatat harus mengeluarkan anggaran sebesar Rp189 miliar Rp250 juta yang terdiri dari benih padi Rp48 miliar Rp750 juta (volume 150.000 hektare dan harga satuan Rp325.000) dan saprodi padi Rp140 miliar Rp500 juta (volume 100.000 hektare dan harga satuan Rp1.405.000).
“Pengembangan padi 100
ribu hektare untuk peningkatan
produktivitas di lokasi PAT dan 50 ribu hektare untuk peningkatan IP,” jelas Suwandi.
Sementara untuk Alsintan pasca panen, tercatat anggaran sebesar Rp324 Miliar Rp220 juta yang terdiri dari Combine Harvester Besar sebanyak 754 unit dengan harga satuan Rp430 juta.
Tak hanya itu, ada juga untuk biaya Koordinasi dan Pendampingan (1 paket) tercatat sebesar Rp29 miliar Rp780 juta. Lalu BSIP (1 paket) Rp30 miliar dan BPPSDMP (1 paket) Rp36 miliar.
Setelah merancang, kemudian Ditjen Tanaman Pangan mengusulkan ABT 2023 sebesar Rp2.501.758.300.000.
Dijelaskan Suwandi, anggaran tersebut diperlukan untuk pembelian jagung sebesar Rp392 miliar Rp500 juta dengan benih jagung hibrida Rp690 juta (volume 1.000.000 hektare dengan harga satuan Rp690 ribu) dan saprodi jagung hibrida sebesar Rp702 miliar Rp500 juta
(volume 500.000 hektare dengan harga satuan Rp1.405.000).
“Untuk ini, pengembangan jagung
500 ribu hektare untuk peningkatan produktivitas di lokasi PAT dan 500 ribu hektare untuk peningkatan IP,” kata Suwandi.
Kemudian untuk padi sebesar Rp760 miliar Rp607 juta Rp116 ribu dengan rincian saprodi padi pendukung percepatan pangan sebesar Rp702 miliar Rp500 juta (volume 500.000 hektare dengan harga satuan Rp1.405.000.
“Pengembangan padi 500
ribu hektare untuk peningkatan produktivitas di lokasi PAT,” terangnya.
Lalu ada juga kebutuhan untuk benih padi pendukung optimasi lahan rawa sebesar Rp48 miliar Rp750 juta (volume 150.000 hektare dengan harga satuan Rp325.000). Untuk koordinasi dan pendampingan (1 paket) dengan nilai sebesar Rp9.357.116.000.
Kemudian penangkaran benih padi Rp118.170.000.000 yang terdiri benih dan saprodi sebesar Rp68 miliar Rp170 juta (volume 10.000 hektare dengan harga satuan Rp6.817.000) dan penanganan pasca panen benih (Seed Cleaner, Dryer/Packing) sebesar Rp50 miliar (volume 100 unit dengan harga satuan Rp500 juta).
Ada juga untuk alsintan pasca panen sebesar Rp163.400.000.000, yakni
Combine Harvester Besar (volume 380 unit dengan harga satuan Rp430 juta).
Lalu untuk pengendalian OPT dan DPI (Gerdal dan Pestisida) sebesar Rp25 miliar (volume 1.000 klp dengan harga satuan Rp25 juta) dan operasional kegiatan (1 Paket) sebesar Rp42.081.184.000.
Sementara untuk kegiatan ABT 2023 yang dilaksanakan tahun 2023 itu sebesar Rp1.299.974.803.600.
Rinciannya untuk jagung Rp351 miliar Rp250 juta yakni benih jagung hibrida (harga satuan Rp690.000) dan benih
saprodi jagung hibrida (volume 250.000 hektare dengan harga satuan Rp1.405.000).
Lalu padi Rp702 miliar Rp500 juta untuk
saprodi padi mendukung percepatan tanam (volume 500.000 hektare harga satuan Rp1.405.000).
Kemudian benih padi mendukung optimasi lahan rawa (harga Rp325.000). Koordinasi dan pendampingan Rp9.357.116.000. Penangkaran benih padi Rp59.085.000.000. Benih dan Saprodi Rp34.085.000.000 (volume 5.000 hektare harga satuan Rp6.817.000).
Penanganan pascapanen benih (Seed Cleaner, Dryer/Packing) sebesar Rp25 miliar (volume 50 unit harga satuan Rp500 juta). Alsintan pascapanen Rp163.400.000.000. Combine harvester besar Rp163 miliar Rp400 juta (volume 380 unit harga satuan Rp430 juta).
Pengendalian OPT dan DPI (Gerdal dan Pestisida) 500 Klp sebesar Rp12,5 miliar dengan harga satuan Rp25 juta.
Operasional Kegiatan (1 paket) Rp 11.239.803.600.
Untuk kegiatan ABT 2023 yang akan dilaksanakan Tahun 2024 sebesar Rp1.201.783.496.400.
Untuk jagung Rp1.041.250.000.000 dengan benih jagung hibrida Rp690 miliar (volume 1.000.000 hektare harga satuan Rp690.000). Saprodi jagung hibrida Rp351 miliar Rp250 juta (volume 250.000 hektare harga satuan Rp1.405.000).
Kemudian padi sebesar RP48 miliar Rp750.000.000 terdiri saprodi padi mendukung percepatan tanam (harga 1.405.000). Benih padi mendukung optimasi lahan rawa (volume 150.000 hektare harga satuan Rp325.000)
Koordinasi dan Pendampingan
Rp9.357.116.000.
Penangkaran benih padi Rp59.085.000.000 untuk benih dan saprodi sebesar Rp 34.085.000.000 (volume 5.000 hektare dengan harga satuan Rp6.817.000).
Penanganan Pascapanen Benih (Seed Cleaner, Dryer/Packing) Rp25 miliar (volume 50 Unit harga satuan Rp500 juta).
Alsintan Pascapanen: 1 Combine Harvester Besar Rp430 juta. Pengendalian OPT dan DPI (Gerdal dan Pestisida) sebesar Rp12,5 miliar (volume 500 klp harga satuan Rp25 juta). Operasional Kegiatan (1 paket)