- Maret 28, 2022
TERWUJUDNYA KEMANDIRIAN BENIH JAHE UNGGUL DI KAB. CIANJUR BERKAT BANTUAN KEMENTERIAN PERTANIAN
Sekali dayung, dua tiga pulau terlampaui. Mungkin ungkapan ini pas untuk menggambarkan dampak pemberian bantuan benih jahe pada Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) ‘Tunas Harapan’ Desa Kutawaringin, Kecamatan Mande, Kabupaten Cianjur.
“Pada tahun 2020, Gapoktan Tunas Harapan mendapatkan bantuan benih jahe merah varietas Jahira 2, sebanyak 3 ton benih label biru (BR)” ujar Dede Sutisna, Sub Koordinator Tanaman Obat Dinas Pertanian Kab. Cianjur. Keinginan kuat anggota kelompok tani agar bisa menanam jahe bermutu mendorong mereka menggunakan rimpang benih jahe dalam ukuran yang lebih kecil. “Bantuan benih yg seharusnya sesuai rekomendasi cukup untuk 6 ha, akhirnya ditanam pada lahan seluas 15 Ha” imbuh Dede.
Panen perdana jahe bantuan tersebut terjadi di bulan Juni-Juli 2021. Panen menghasilkan rimpang jahe basah sebanyak lebih kurang 36 ton.
Oleh anggota Gapoktan Tunas Harapan, hasil panen basah sebagian dijual sebagai jahe konsumsi dan sebagian lainnya digunakan sebagai sumber benih pertanaman berikutnya.
Tingginya selisih harga jual jahe sebagai konsumsi dan sebagai benih mendorong anggota Gapoktan makin menseriusi usaha perbenihan jahe. Bila harga jahe konsumsi di kisaran Rp. 8.000 per kg, maka rimpang jahe sebagai benih seharga Rp. 25.000-30.000 per kg. Keuntungan sebanyak 3-4 kali lipat ini yang merangsang tumbuh kembangnya usaha penangkaran benih jahe di Kecamatan Mande, Cianjur ini.
Selain itu, Semenjak adanya bantuan benih jahe tersebut, keinginan petani di Kecamatan Mande untuk bertanam jahe meningkat. Hal ini terlihat dari gairah petani yang semula menanam total luas 15 Ha, menjadi 70 Ha di tahun 2022 ini.
Pola tanam yang lakukan oleh kelompok tani penerima bantuan benih jahe tersebut ada yang monokultur, tetapi sebagian besar melakukannya dengan sistem tumpangsari dengan tanaman lain seperti cabai keriting, cabai rawit, terung dan jagung manis. Hal ini dilakukan, karena motif ekonomi, sembari menunggu jahe dapat dipanen.
Apabila pada awalnya jenis jahe yang dibudidayakan di Kecamatan Mande, ini adalah jahe merah varietas Jahira 2, namun saat ini melalui swadaya petani juga mulai mengembangkan varietas jenis jahe putih besar/jahe gajah varietas Cimanggu dan jahe putih kecil/jahe emprit varietas Halina.
Potensi pertanaman biofarmaka di Cianjur perlu lebih digali lagi, hal ini karena kondisi agroklimat Cianjur yang sesuai untuk budidaya tanaman biofarmaka.
Admitta, ketua Gapoktan Tunas Mekar mengungkapkan “Alhamdulillah, kita menerima bantuan benih jahe dari pemerintah tahun sebanyak 3 Ton, seluas 15 Ha, kami salurkan ke 10 Kelompok Tani anggota untuk di tanam”. Selain itu, Dedi yang merupakan Ketua Kelompok Tani Cigintung, mengaku senang mendapat bantuan benih jahe dari pemerintah, beliau mengapresiasi bantuan tersebut dikarenakan saat itu, harga benih jahe mahal, sehingga mengurungkan niatnya untuk berbudidaya jahe. “Setelah bantuan tersebut, saya terus bertanam jahe dan sekarang saya tanam jahe seluas 5000 m di lahan saya sendiri”. Benih jahe beliau peroleh dari hasil pertanaman sebelumnya yang disisihkan untuk dijadikan benih.”Benih jahe ini, saya dapatkan dari pertanaman jahe sebelumnya, yang saya sisihkan 30% untuk dijadikan benih”, pungkas Dedi.
Berdasarkan informasi Petugas pengawas benih di Cianjur, Iyus Rusliana, apabila sebelum bantuan benih belum ada penangkar benih jahe, namun saat ini sudah terdapat 2 penangkar benih jahe yang bersertifikat. “Melihat gairah petani setempat untuk berbudidaya jahe, saya melihat usaha perbenihan jahe ke depan menjadi semakin menggairahkan. “Adanya dukungan program baik melalui APBN maupun APBD yang menggunakan benih produksi penangkar di Cianjur tentunya menjadi hal positif bagi produsen benih disini” lanjut Iyus.
Direktur Perbenihan Hortikultura, Dr. Inti Pertiwi, ditemui secara terpisah memaparkan “Potensi biofarmaka masih besar untuk bisa dikembangkan di Indonesia, mengingat kebutuhan bahan baku herbal/ simplisia juga tinggi. Untuk memenuhi hal tersebut, kita dorong dari sisi penyediaan benihnya dan kita bina produsen maupun calon produsen untuk dapat menghasilkan benih jahe yang bermutu, termasuk apa yang telah lakukan oleh teman-teman di Kab Cianjur. “Ini adalah contoh positif yang perlu kita terus dorong dan kembangkan juga di daerah-daerah lainnya” tegas Inti Pertiwi lebih lanjut.
Buah kerja keras membangun usaha perbenihan jahe di Cianjur tampaknya juga mulai membuahkan hasil. “Pada 2021 lalu, jahe produksi petani disini selain dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan benih jahe di Cianjur juga telah digunakan untuk memenuhi kebutuhan benih pada pengembangan jahe di Provinsi Jambi”kata Rahmat Hidayat petugas penyuluh Kab Cianjur. Lebih jauh, Rahmat juga menyampaikan bahwa harga benih yang lebih tinggi dibanding harga jahe konsumsi dan prospek permintaan benih yang terus meningkat menjadi daya tarik lebih bagi petani di Desa Kutawaringin Kec Mande Kab Cianjur untuk lebih mengeluti profesi baru ini.
Kontributor:
Langgeng, Annisa