- Maret 7, 2022
BIWA, BUAH EKSOTIS DARI TANAH KARO
Namanya Buah Biwa. Mungkin tak banyak orang yang familiar dengan buah ini. seperti halnya buah lain dari Tanah Karo seperti jeruk, markisa, dan lainnya. Buah ini sangat jarang sekali ditemukan bahkan di toko buah ternama sekalipun. Ini disebabkan, buah biwa merupakan salah satu buah langka yang tidak banyak dibudidayakan di Indonesia. Tanaman biwa ini sangat cocok tumbuh di daerah dataran tinggi salah satunya di Tanah Karo. Tanaman ini sudah tidak asing bagi masyarakat di Kabupaten Karo karena banyak penduduk yang menanam tanaman biwa di halaman rumah dan lahan pertanian mereka sebagai tanaman pagar namun bukan sebagai tanaman utama.
Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) adalah tanaman yang tumbuh di daerah subtropis dari famili Rosaceae, subfamili Maloideae. Buah biwa berwarna kekuning-kuningan pada saat muda dan rasanya masam, kalau sudah matang buah biwa akan berwarna orange dan rasanya manis. Biwa memiliki banyak manfaat bagi kesehatan tubuh, daging buah biwa mengandung asam sitrat, karoten, vitamin A, B,dan C. Buah biwa dapat melindungi membran usus dari serangan penyakit dikarenakan rendah kalori dan tinggi serat, buah biwa mengandung zat besi dan tembaga yang mampu untuk membantu pembentukan sel darah merah. Selain itu, daun dan bijinya mengandung amygdalin yang berperan sebagai anti kanker (Morton, 1987, dalam Nasution et al., 2014). Ekstrak tanaman biwa telah digunakan untuk pengobatan batuk, bronkitis kronis peradangan, diabetes, dan kanker dalam pengobatan tradisional Tiongkok (Liu et al., 2016).
Pada tahun 2007, Pemerintah Daerah Kabupaten Karo telah mendaftarkan komoditas ini sebagai komoditas unggul nasional dengan nama varietas Biwata Ras. Nama varietas ini diambil dari Bahasa Karo yang berarti Biwa Kita Bersama. Dengan makna nama tersebut mengandung pesan bahwa buah biwa sebagai salah satu tanaman unggulan dari tanah Karo, harus diperluas lagi pengembangannya sehingga kedepannya buah biwa akan dapat ditemui sepanjang waktu.
Jika ingin mencicipi buah ini salah satu lokasi yang bisa kita kunjungi adalah pasar buah Berastagi. Namun karena produksi yang tidak banyak di pasaran membuat harganya melambung dengan harga jual saat ini Rp40.000,00 sampai Rp 60.000,00 per kg.
Beberapa waktu lalu penulis berkesempatan mengunjungi Taman Simalem Resort dan mengelilingi kebun biwa seluas 5 Ha dengan 1.700-an populasi pohon biwa. Menurut informasi dari pengelola kebun biwa di Taman Simalem Resort, tanaman biwa bisa berbuah pada saat berumur 4 tahun, pada saat berumur 8 tahun pohon biwa akan berbuah dengan sangat optimal. Tanaman biwa ini dapat hidup mencapai lebih dari 20 tahun. Di Taman Simalem Resort tanaman biwa dibudidayakan dengan sistem organik, menggunakan pupuk organik dan perlakuan lainnya yang bersahabat dengan alam.
Di dalam pengembangan tanaman biwa, banyak dilakukan petani dengan menggunakan biji. Perbanyakan tanaman biwa dapat dilakukan dengan penyerbukan silang (cross pollination) selain itu perbanyakan tanaman biwa dapat dilakukan dengan biji, rundukan, okulasi, grafting maupun cangkok.
Sebagai wilayah pengasil buah-buahan Kabupaten Karo sangat patut dibanggakan, terkenal dengan aneka buahnya seperti buah markisa, jeruk, terong berastagi, kesemek, dan lain-lain yang sudah sangat populer sebagai oleh-oleh khas dari Kabupaten Karo, kita berharap buah biwa ini juga dapat menjadi ikon oleh-oleh khas dari Tanah Karo dalam waktu tidak terlalu lama lagi. Semoga.
———————————————————–
Pustaka
Nasution LW, Barus A, Mawarni L, Tarigan R, 2014. Perkecambahan dan Pertumbuhan Bibit Biwa (Eriobotrya japonica Lindl.) Akibat Perendaman Pada Urin Hewan dan Pemotongan Benih. Jurnal Online Agroekoteknologi, 2: 1367-1375.
Liu Y, Zhang W, Xu C, Li X, 2016. Biological Activities of Extracts from Loquat (Eriobotrya japonica Lindl.). International Journal of Molecular Sciences, 17 (12): 1.
————————————————————–
Ditulis oleh
Rimta Terra Rosa Br Pinem
Pengawas Benih Tanaman Muda.