- Januari 13, 2022
Budidaya Padi Ramah Lingkungan
Observasi.id Jakarta – Oleh : Entang Sastraatmadja.
Tgl 12 Januari 2022, pukul 13.00 hingga 16.00 telah diselenggarakan Bintek Daring ProPakTani. Tema yang diangkat berhubungan dengan Rekomendasi Budidaya Padi Ramah Lungkungan. Acara yang diinisiasi Dirjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian ini dipandu oleh moderator dari Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian dan menarik untuk kita cermati.
Bukan saja hal ini merupakan upaya nyata untuk mencerahkan para petani terkait dengan inovasi dan teknologi budidaya pertanian, namun juga merupakan ajang untuk berbagi pikir dan bersambung rasa diantara “Keluarga Besar Pertanian”. Apakah mereka yang berbasis birokrat Pemerintah yang ada di Kementerian Pertanian.
Apakah mereka yang berbasis akademisi. Apakah mereka yang berasal dari kalangan peneliti, penyuluh pertanian, kelembagaan/organisasi petani dan para petani itu sendiri. Dalam bintek episode ke 281 ini, tampil 5 Nara Sumber yang mewakili berbagai profesi pertanian. Ada yang mewakili peneliti padi. Lalu, ada yang mewakili peneliti perpupukan.
Ada yang mewakili Badan Pengkajian fan Teknologi Pertanian. Ada yang mewakili organisasi petani dan ada juga yang mewakili kalangan Akademisi. Selama 3 jam mereka berbagi pemikiran tentang bidang yang digeluti nya. Mereka pun berinter-aksi cukup inten dengan para peserta Bintek Daring yang diikuti sekitar 250 peserta dari seluruh Indonesia.
Dari apa yang menjadi penyampaian bintek oleh para Nara Sumber dapat ditegaskan, pola tanam padi ramah lingkungan adalah teknologi budidaya padi sawah dengan penerapan pola tanam jajar legowo, pengairan berselang, pemupukan berimbang dan penggunaan biopestisida. Sawah tidak perlu diairi terus menerus, tidak perlu banyak pupuk kimia dan tambahkan pupuk organik.
Budidaya padi ramah lingkungan, pada dasar nya akan sangat ditentukan oleh benih padi yang akan ditanam, dosis dan jenis pupuk yang tepat, pengairan yang sesuai dengan kebutuhan, penggunaan bio pestisida yang cocok dan keberadaan para Penyuluh Pertanian di lapangan. Dari perbincangan tentang bintek secara daring ini ada beberapa catatan penting yang perlu dijadikan pencermatan kita bersama.
Pertama, tentu saja terkait dengan penggunaan benih padi yang akan dibudidayakan. Benih yang akan digunakan, sebaik nya sudah bersertifikat. Kita harus hati-hati memilih benih padi ini. Sekarang ini banyak benih padi yang memiliki waktu lebih singkat untuk di panen dengan produksi yang cukup tinggi. Kita juga memiliki benih yang tahan kekeringan. Sekarang tinggal dipilih, mana yang skan dibudidayakan.
Dalam hal ini, peran Penyuluh Pertanian menjadi sangat penting. Penyuluh inilah yang akan melakukan proses pembelajaran kepada para petani terkait varietas padi apa yang cocok dikembangkan untuk budidaya padi ramah lingkungan. Apa yang dihasilkan para peneliti, sudah seharus nya disampaikan kepada para penyuluh secara terang benderang, sehingga para Penyuluh akan dapat mengajarkan nya kepada petani secara benar.
Proses Penyuluhan Pertanian seperti ini kelihatan butuh sinergi fan kolaborasi antara Ditjen Tanaman Pangan dengan BP2SDM Kementerian Pertanian. Tanpa ada kerja-sama yang berkualitas, mulai dari sisi perencanaan hingga pelaksanaan nya, boleh jadi masing-masing eselon 1 di Kementan bakalan asyik dengan tugas dan fungsi nya masing-masing.
Kedua, terkait dengan proses pemupukan. Budidaya padi ramah lingkungan, sepatut nya lebih mengutamakan penggunaan pupuk organik ketimbang memakai pupuk kimia. Namun dengan berbagai pertimbangan, kelihatan nya kita masih belum siap untuk menyetop pemakaian pupuk an-organik untuk menggantikan nya dengan pupuk organik secara totalitas.
Namun begitu, suka atau pun tidak, secara keputusan politik, kita sudah harus berani mengurangi penggunaan pupuk kimia dan mensubsitusi nya dengan pupuk organik. Disinilah perlu nya ada revitalisasi dalam kebijakan pupuk bersubsidi yang setiap tahun nya menelan angka sekutar 30 Trilyun Rupiah. Revitalisasi adalah “giving a new life”. Arti nya perlu ada “darah baru” dalam Tata Kelola Pupuk Bersubsidi.
Subsidi yang diberikan kepada pabrikan, sebaik nya diberi muatan agar pupuk organik menjadi salah satu prioritas pengembangan mereka ke depan. Sebab, kalau kita sudah berani akan mengembangkan budidaya padi ramah lingkungan, maka yang disebut pupuk organik adalah salah satu faktor yang menentukan sampai sejauh mana budidaya padi ramah lingkungan itu mengena pada apa yang diimpikan nya itu.
Ketiga terkait dengan komitmen dan konsistensi Pemerintah untuk menerapkan budidaya padi ramah lungkungan itu sendiri. Arti nya, sampai sejauh kemauan politik yang demikian akan diikuti oleh tindakan politik di lapangan. Pemerintah, baik Pusat atau Daerah, harus betul-betul mendampingi, mengawal, mengawasi dan mengamankan kebijakan ini, sekira nya ada oknum-oknum tertentu yang menghentikan nya di tengah jalan.
Hal ini penting dicatat, karena tanpa ada nya dukungan maksimal dari Pemerintah, besar kemungkinan budidaya padi ramah lingkungan, bisa saja dihantam oleh kelompok yang tidak pro dengan pengembangan pupuk organik. Kita tahu persis betapa banyak nya orang-orang yang diberi kenikmatan dengan subsidi pupuk sekitar 30 Trilyun rupiah per tahun nya itu. Apakah “mafia pupuk” bakalan rela bila nilai itu dikurangi dan sebagian diberikan kepada petani langsung guna menghasilkan pupuk organik ?
Sebetul nya banyak hal yang mengedepan dalam Bintek Daring yang berlangsung sekitar 3 jam efektip. Hanya, berdasarkan pengamatan yang dilakukan, Bintek Daring semacam ini, memang nerupakan langkah tepat untuk mencerahkan pemikiran kita terhadap hal-hal baru dalan pembangunan pertanian di negeri ini. Namun begitu, kita juga harus mampu menberi solusi nyata atas apa-apa yang diungkap oleh peserta Bintek yang berjumlah sekitar 250 orang tersebut. Merek adalah kekuatan kita, yang perlu dioptimalkan keberadaan nya. (PENULIS, KETUA HARIAN DPD HKTI JAWA BARAT)