- Februari 8, 2022
Hadirnya Benih Hortikultura dalam Mensukseskan Program Integrated Farming di Kabupaten Wajo
Kabupaten Wajo pada tahun 2022 telah mencanangkan program integrated farming seluas 400 ha . Di dalam kawasan pengembangan tersebut dikembangkan secara bersama-sama aneka ragam komoditas pertanian. Kick off pencanganan IF yang berada di Desa Macanang, Kecamatan Majauleng Kabupaten Wajo tersebut telah dimulai bersamaan dengan tanam dan panen jagung dan cabe di lokasi tersebut.
Salah satu jenis komoditas yang dikembangkan adalah komoditas hortikultura yaitu seluas 30 ha cabe. Selain itu juga dikembangkan pisang seluas 48 ha dan mangga seluas 15 ha. Selain itu, para petani di lokasi IF Wajo ini juga berinisiasi untuk mengembangkan jahe seluas 1 ha.
Melihat potensi dan kondisi agroklimat yang mendukung untuk pengembangan Integrated Farming, Menteri Pertanian Dr. H. Syahrul Yasin Limpo berkeyakinan bahwa Kabupaten Wajo bisa lebih digali potensi pertaniannya, “kalau bisa jangan hanya 30 Ha, 400 Ha, jikalau bisa kembangkan sampai 1000 Ha Integrated Farming di Kab. Wajo ini”, papar Mentan yang juga mantan Gubernur Sulsel tersebut di acara KunKer Tanam dan Panen Perdana Jagung dan Cabai, 7 Februari 2022.
Pada bagian lain, Direktur Jenderal Hortikultura menyatakan komitmennya untuk memberikan supporting secara lebih luas guna keberhasilan IF di Wajo. ‘Integrated farming di Kabupaten Wajo bisa dijadikan role model pengelolaan integrated farming ke depan di Indonesia. Kita akan berikan perhatian dan pendampingan serius untuk keberhasilannya. Dan terkait dengan hal terebut, kami siap mendukung pengembangan kampung hortikultura di sana dari aspek hulu sampai hilirnya” papar Dr. Prihasto Setyanto, M.Sc Direktur Jenderal Hortikultura di Jakarta.
Dan secara khusus, terkait dengan pemenuhan kebutuhan aneka benih hortikultura bermutu yang diperlukan oleh para petani di lokasi ini, Direktorat Perbenihan Hortikultura juga serius berkomitmen untuk memenuhi nya. “Kami akan memberikan prioritas bagi pemenuhan benih-2 hortikultura bermutu di IF Kabupaten Wajo, karena kita melihat bahwa keberhasilan akhir dari pengembangan komoditas pertanian tentunya sangat ditentukan oleh kualitas benih yang digunakan” papar Dr. Inti Pertiwi, Direktur Perbenihan tersebut di tempat terpisah.
Salah satu petani penerima bantuan benih cabai, Andung, sangat menyambut baik kegiatan IF di Kab Wajo ini , “Alhamdulillah dengan adanya pencanangan IF di desa kami, Desa Macanang, memberikan energi dan gairah positif pada para petani untuk semangat menanam komoditas yang mempunyai nilai ekonomi. Yang menjadi primadona petani di sini untuk ditanam, yakni cabai rawit. Kami menanam cabai rawit, karena harga jual di pasaran masih cukup tinggi. Namun begitu, kami tidak menutup kemungkinan untuk mencoba mengembangkan komoditas hortikultura lain, seperti jahe merah”, tutur Andung saat ditemui seusai acara tersebut. Namun demikian, semangat petani yang tinggi dalam mencoba menanam komoditas lain, diperlukan dukungan di sisi perbenihan nya. Bentuk dukungan tersebut yakni pembinaan yang kontinyu dari Dinas Pertanian – petugas BPSB setempat, kepada petani yang memang mempunyai keinginan untuk menjadi produsen benih hortikultura bermutu.
Kepala bidang TPH Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Wajo, Drs. Burhanuddin mengungkapkan potensi hortikultura sangat besar untuk dikembangkan di Kabupaten Wajo. Seperti komoditas cabai rawit yang tahun lalu, kita sempat mensuplai untuk pasaran di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Beberapa varietas cabai rawit, telah familiar ditanam oleh petani, seperti Maruti dan varietas lokal lain. Rencana kedepan kita mendorong petani untuk menanam komoditas lain yang punya nilai ekonomi tinggi, seperti tanaman biofarmaka – jahe, dan tanaman buah. “Harapan dari pencanangan IF di Kabupaten Wajo ini, tentunya tak hanya bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani, namun juga diharapkan dapat memperkuat ketahanan pangan di wilayah kami’ imbuh Burhanuddin.
Kontributor:
Langgeng,
Annisa