- Juni 4, 2026
Dorong Nilai Tambah Tambah Komoditas, Penyuluh Pertanian Kementan Bangun Hilirisasi Kopi Arabika di Tana Toraja
JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 16 pada Selasa (02/06/2026). Kegiatan kali ini mengangkat tema “Strategi Eksponensial PPL pada Hilirasi Kopi Arabika di Tana Toraja”, menyoroti peran strategis penyuluh pertanian dalam mendorong peningkatan nilai tambah komoditas kopi melalui penguatan budidaya, perbaikan mutu pascapanen, pengembangan kelembagaan petani, perluasan akses pasar, serta hilirisasi produk berbasis kopi Arabika yang berdaya saing.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menegaskan bahwa hilirisasi pertanian merupakan kunci untuk meningkatkan nilai tambah produk pertanian dan memperkuat kesejahteraan petani.
“Petani tidak boleh hanya menjual bahan mentah, tetapi harus menjadi bagian dari rantai usaha yang menghasilkan nilai ekonomi lebih besar sehingga kesejahteraan mereka terus meningkat,” ujar Mentan.
Sejalan dengan Mentan Amran, Kepala Badan PPSDMP, Idha Widi Arsanti menegaskan bahwa transformasi penyuluhan harus mampu mendorong lahirnya penyuluh yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, pasar, dan kebutuhan petani.
“Penyuluh pertanian harus mampu menjadi penggerak transformasi agribisnis di lapangan. Tidak hanya mendampingi budidaya, tetapi juga memperkuat kapasitas petani dalam pengolahan, pemasaran, dan pengembangan usaha agar memperoleh nilai tambah yang lebih besar,” ujarnya.
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menekankan pentingnya memperkuat peran penyuluh dalam membangun kemitraan yang kokoh antara petani dan pelaku usaha. Dengan hilirisasi yang didukung penyuluh profesional dan inovatif, petani diharapkan tidak hanya memperoleh keuntungan dari hasil panen, tetapi juga dari proses pengolahan dan pemasaran yang mampu meningkatkan daya saing produk serta kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan.
Narasumber Ngobras, Penyuluh Pertanian Kecamatan Gandangbatu Sillanan, Hariadi menjelaskan bahwa pengembangan kopi Arabika Tana Toraja dilakukan melalui pendampingan berkelanjutan kepada petani selama lebih dari satu dekade. Pendampingan tersebut mencakup penerapan Good Agricultural Practices (GAP), edukasi panen buah merah, penguatan mutu pascapanen, pengenalan cupping test, serta penguatan kapasitas petani dalam memahami standar mutu kopi yang dibutuhkan pasar. Melalui pendekatan tersebut, petani tidak hanya mampu meningkatkan kualitas hasil produksi, tetapi juga memahami hubungan antara mutu kopi dengan nilai jual yang diperoleh.
Salah satu strategi eksponensial yang diterapkan adalah membangun kesadaran petani terhadap pentingnya kualitas sebagai pintu masuk hilirisasi. Sehingga, penyuluh pertanian berperan aktif menjembatani kemitraan antara petani, kelompok tani, eksportir, pelaku usaha, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan rantai pasok yang lebih efisien dan transparan.
“Upaya tersebut berhasil meningkatkan posisi tawar petani, memperluas akses pasar premium, serta mendorong terciptanya sistem pemasaran yang lebih menguntungkan bagi petani kopi”, ucap Hariadi.
Hariadi menambahkan jka hilirisasi kopi Arabika di Tana Toraja terus berkembang melalui pengolahan produk kopi bernilai tambah, pengembangan UMKM kopi, peningkatan kapasitas kelembagaan petani, serta penguatan identitas kopi Toraja sebagai produk unggulan daerah. Menurutnya, penyuluh harus mampu beradaptasi dengan perubahan iklim, perkembangan teknologi, dan dinamika pasar agar proses pendampingan tetap relevan dalam menjawab tantangan yang dihadapi petani.
Keberhasilan hilirisasi kopi tidak dapat dicapai hanya melalui peningkatan produksi, tetapi harus didukung oleh sinergi seluruh pemangku kepentingan, penguatan kelembagaan petani, penerapan teknologi, serta strategi pemasaran yang tepat. Melalui peran penyuluh yang aktif dan kolaboratif, hilirisasi kopi Arabika diharapkan mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar, meningkatkan daya saing produk, serta mendorong kesejahteraan petani kopi secara berkelanjutan, tutup Hariadi.
Pada kesempatan yang sama, Penyuluh Pertanian Ahli Utama, Siti Nurjanah menyampaikan bahwa kopi merupakan salah satu komoditas perkebunan unggulan Indonesia yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan petani. Oleh karena itu, hilirisasi kopi perlu terus diperkuat melalui peningkatan kualitas budidaya, panen buah merah, penanganan pascapanen yang tepat, pengolahan produk, serta pengembangan branding dan pemasaran.
Menurutnya, penyuluh pertanian harus mampu menjadi agen perubahan yang adaptif, kolaboratif, dan berorientasi pada penciptaan nilai tambah sehingga keberhasilan pendampingan dapat dirasakan secara nyata oleh petani.
Melalui kegiatan Ngobras ini, diharapkan para penyuluh pertanian di seluruh Indonesia dapat memperoleh inspirasi dan pembelajaran dari praktik baik pengembangan kopi Arabika di Tana Toraja. Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa penyuluh memiliki peran strategis sebagai penggerak transformasi pertanian yang mampu menghubungkan aspek budidaya, pengolahan, pemasaran, dan kemitraan usaha dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani. (RS)