- April 16, 2026
Penguatan Produksi Pertanian Berbasis Bio Fermentor dalam Mendukung Swasembada Pangan
JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda rutin Ngobrol Asyik (Ngobras) Volume 11 Selasa (11/04/2026). Acara yang disiarkan langsung melalui kanal YouTube @pusluhtanri dan Zoom Meeting, serta diikuti oleh penyuluh dan petani dari berbagai daerah di Indonesia ini, fokus membekali para penyuluh dan petani dengan inovasi teknologi tepat guna untuk menjaga kesehatan lahan dan memacu produktivitas nasional.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa inovasi teknologi adalah kunci utama mencapai swasembada pangan di tengah tantangan iklim.
“Kita harus bergerak cepat dengan teknologi yang efisien. Pemanfaatan bahan organik dan biologi tanah akan memperkuat struktur produksi kita dari level terbawah, yaitu lahan petani sendiri,” tegas Mentan Amran.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menyoroti pentingnya perubahan perilaku petani menuju pertanian berkelanjutan. “Penyuluh harus mampu mengedukasi petani agar terus menjaga lingkungan. Kita perlu mengembalikan kesuburan tanah secara alami agar produktivitas tetap terjaga dalam jangka panjang,” ujar Idha
Plt. Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, Eko Nugroho Dharmo Putro menambahkan bahwa kemandirian petani dalam menyediakan sarana produksi secara mandiri sangat krusial.
“Penggunaan alat seperti bio fermentor memungkinkan petani memproduksi dekomposer dan agensia hayati sendiri. Ini adalah langkah nyata menuju efisiensi biaya usaha tani sekaligus mendukung keberlanjutan swasembada,” ungkap Eko.
Menurut narasumber utama yang merupakan Penyuluh Pertanian dari Kabupaten Indramayu, Mohammad Khairul menyampaikan bahwa kondisi “kerapuhan” alam pertanian saat ini, di mana tanah menjadi padat, keras, dan sulit mengikat air akibat penggunaan kimia yang berlebihan serta pembakaran jerami. Sebagai solusinya, Khairul memperkenalkan teknologi Bio Fermentor.
“Bio Fermentor adalah alat sederhana untuk perbanyakan mikroba atau bakteri menguntungkan. Jika fermentor biasa butuh waktu satu bulan, dengan bio fermentor ini prosesnya hanya memakan waktu 2 hingga 4 hari,” jelas Khairul.
Teknologi Bio Fermentor ini memiliki 3 fungsi utama, yaitu sebagai pembuatan decomposer untuk pengurai bahan organic, perbanyakan bakteri pembenah tanah guna mengembalika kesuburan fisik, kimia, dan biologi tanah, serta perbanyakan agensi hayati atau pestisida alami untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman.
Khairul membagikan komposisi media untuk kapasitas 20 liter yang terdiri dari bahan yang mudah ditemukan seperti kentang/ubi jalar (sumber karbon), tempe (asam amino), terasi, asam humat, dan gula pasir/tetes tebu. Bakteri biangnya dapat diambil langsung dari alam, seperti dari akar bambu atau putri malu.
Dalam sesi diskusi, Khairul menjawab kegelisahan petani mengenai aplikasi lapangan. Ia merekomendasikan penggunaan 5 liter bio fermentor per hektar yang disemprotkan pada saat olah tanah pertama dan persiapan tanam. Teknologi ini dapat digunakan untuk berbagai jenis tanaman, termasuk hortikultura, dan berfungsi sebagai komplemen atau pengganti pupuk sesuai kebutuhan vegetatif tanaman.
Menutup sesi, Penyuluh Pertanian Ahli Madya Pusluhtan, Djanu Sutrisno memberikan pesan motivasi bagi para peserta. “Segala upaya mulai dari cetak sawah hingga optimalisasi lahan harus kita usahakan demi swasembada. Jadilah seperti pion, meskipun melangkah lambat, ia tidak pernah melangkah mundur satu langkah pun dalam memperjuangkan kedaulatan pangan,” tutupnya. (RS)