- Februari 17, 2026
From the Farm to Table: Koreksi Peran Negara dalam Sistem Pangan
_Oleh, : M. Chairul Arifin, Purnabakti Kementerian Pertanian Alumni Unair_”
Narasi _from the farm to table_ sering dimaknai sebagai kedaulatan petani dari sawah hingga meja makan. Namun dalam praktiknya, kedaulatan itu terlalu terfragmentasi. Petani berproduksi, tetapi arah pasar, struktur konsumsi, dan dominasi bahan baku justru ditentukan oleh kebijakan impor dan industri hilir
Swasembada pun kerap direduksi menjadi sekadar capaian angka produksi, bukan kemandirian sistem pangan secara utuh. Negara terlalu menekankan pendekatan produksi, sementara pendekatan konsumsi diabaikan.
* *Impor, pergeseran ke gandumisasi dan peminggiran komoditas kokal*
Akibatnya, diversifikasi gagal menjadi arus utama pembangunan pangan, dan pergeseran konsumsi terjadi menuju gandum berlangsung tanpa kendali. Bahkan sekitar 70 persen UMKM pangan kini berbasis gandum—sebuah tanda perubahan struktural, bukan hanya sekadar selera.
Impor yang tidak terkelola bukan hanya meminggirkan komoditas lokal, tetapi juga membawa masuk gula dan karbohidrat tersamar dalam produk makanan dan minuman olahan.
Dampaknya meluas hingga kesehatan publik: prevalensi peningkatan penyakit tidak menular seperti kardiovaskular dan diabetes tipe 2 yang menjadi beban jangka panjang bangsa.
*Kesimpulan*
Dengan demikian, persoalan pangan hari ini bukan sekadar soal pasokan, melainkan soal pilihan strategi dan tata kelola pembangunan pangan.
Jika negara tidak mengoreksi arah—dari sekadar hanya untuk stabilisasi produksi menuju kedaulatan sistem yang sehat dan beragam—maka meja makan bangsa akan terus logikanya oleh logika pasar global, bukan oleh kepentingan kesehatan dan masa depan generasi menjadi pertaruhan di masa
mendatang.
*Depok, Pebruari 2026*
mchairul49@gmail.cim