• Januari 14, 2026

Tata Ruang Kehidupan Masyarakat Sumbar, Sumut dan Aceh .Dari Alam Takambang Jadi Guru-Dalihan Na Tolu, Rumoh Aceh

Tata Ruang Kehidupan Masyarakat Sumbar, Sumut dan Aceh .Dari Alam Takambang Jadi Guru-Dalihan Na Tolu, Rumoh Aceh

Bencana ekologis di pulau Sumatera menyebabkan langkah mitigasi dan preventif perlu dipertimbangkan yaitu dengan meletakkan dasar-dasar kearifan lokal yang sudah lama dianut oleh masyarakat setempat.

Di pulau Sumatera konsep tata ruang pada umumnya menunjukkan adanya keseimbangan antara alam dan manusia seperti ditunjukkan oleh hal hal berikut ini

1. *Masyarakat Sumatera Barat*

Konsep tata ruangnya berlandaskan kepada *_Alam Takambang Jadi Guru_* yang artinya hubungan harmonis antara alam, adat istiadat, dan manusia yang te refleksikan sebagai Rumah Gadang.

Masyarakat Minangkabau percaya adanya tiga ruang Rumah Gadang yaitu publik, semi publik dan bilik tidur yang responsif terhadap alam banjir, galodo dan gempa.

2. *Masyarakat Batak*

Konsep tata ruangnya berlandaskan kepada *Dalihan na Tolu* yang te refleksikan dalam rumah Bolon 1. Ruang atas yang sengaja ditinggikan sebagai tempat upacara adat 2. Ruang tengah sebagai tempat tamu dan pertemuan serta 3. Ruang bawah sebagai tempat menyimpan harta benda dan ternak

Pandangan kosmologi orang Batak tidak lepas dari hubungan antara roh dengan kehidupan.

3. *Masyarakat Aceh*

Tata ruang Aceh dilandasi paxda ketentuan antara adat dan agama yaitu *_Adat ngon agama lagee zat ngon sifeuet* (adat dan agama adalah satu kesatuan ) diatur oleh _imun mukim_

Terfleksikan dalam _Rumoh Aceh_ terdiri atas tiga bagian yaitu bagian depannya sebagai tempat musyawarah dan tempat tidur anak laki-laki, _seramue teungoh_ atau tengah sebagai tempat tidur utama dan menyimpan harta benda dan bagian belakang _seramue likot_ sebagai tempat menyimpan ternak

Prinsip orang Aceh adalah keselarasan antara alam tropis, kearifan lokal dan adaptasi terhadap iklim karena Rumoh Aceh dibuat seperti rumah panggung dari bahan setempat yang berdiri 2-3 meter untuk sirkulasi udara serta antisipasi kejadian banjir

Saya kurang mengerti kenapa bencana masih terjadi. karena didasarkan tata ruang sudah mengikuti kearifan loka*l.

( *M Chairul Arifin.*)
_*Sumber: Bahan Kuliah saya di Fakultas Ilmu Sosial Unair 1978 dan sumber Pustaka lain*_)

Berita Terkait

Gubernur Jawa Timur: Perkuat Inseminasi Buatan, Swasembada Daging Bisa Dicapai dalam Tiga Tahun

Gubernur Jawa Timur: Perkuat Inseminasi Buatan, Swasembada Daging…

Malang, 28 Juni 2026 – Gubernur Jawa Timur, Hj. Dr. (HC) Khofifah…
Kementan Bangun Sinergitas Dengan Pemda Perkuat Stabilitas Perunggasan

Kementan Bangun Sinergitas Dengan Pemda Perkuat Stabilitas Perunggasan

Jakarta – Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen…
Di Hadapan 100 Ribu Petani dan Nelayan seluruh Indonesia di PENAS XVll, Presiden Prabowo Pastikan Swasembada Pangan Berkelanjutan

Di Hadapan 100 Ribu Petani dan Nelayan seluruh…

GORONTALO – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk menjaga dan memperkuat…