• September 25, 2025

Kementan Tekankan Pengendalian Hama Padi Sejak Dini

Kementan Tekankan Pengendalian Hama Padi Sejak Dini

Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat peran penyuluh dalam menghadapi ancaman organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada tanaman padi. Melalui program diskusi daring Ngobrol Asyik (Ngobras) Bersama Penyuluh edisi ke-32 pada Selasa (23/9/2025), pemerintah menekankan pentingnya pengendalian hama sejak dini demi menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa perlindungan tanaman pangan tidak bisa ditunda, apalagi di tengah kondisi iklim yang kian tidak menentu. Menurutnya, upaya pengendalian harus dimulai sejak tahap persemaian, disertai sanitasi lahan, serta pemantauan berkala agar serangan hama tidak meluas.

“POPT (Pengendali Organisme Pengganggu Tumbuhan) memiliki peran strategis di lapangan, baik di tanaman pangan, perkebunan, maupun hortikultura. Dengan pengendalian terpadu, kerugian petani bisa diminimalisir,” kata Amran.

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), Idha Widi Arsanti, menambahkan bahwa kebijakan pengendalian OPT merupakan salah satu kunci mendukung swasembada pangan nasional. “Padi adalah sumber pangan utama, maka kualitas dan kuantitas produksinya harus dijaga,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, I Gusti Made Ngr. Kuswandana, mendorong agar penyuluh mengutamakan metode ramah lingkungan. “Pengendalian jangan langsung mengandalkan pestisida kimia. Musuh alami, teknik agroekologi, dan pemanfaatan refugia bisa menjadi solusi yang lebih berkelanjutan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Jenita Faradiba, Petugas POPT Kabupaten Bogor, memaparkan OPT utama pada padi meliputi penggerek batang, tikus, wereng cokelat, hawar daun bakteri, hingga tungro. Ia juga menjelaskan berbagai strategi pengendalian, mulai dari tanam serempak, pemanfaatan predator, hingga penggunaan agens hayati.

“POPT tidak bekerja sendirian, melainkan bersama penyuluh lapangan. Kolaborasi inilah yang akan memperkuat pengendalian OPT secara berkelanjutan,” pungkas Jenita.(*)

———————-

Rilis 2
Judul :
1. Ngobras Penyuluh Bahas Strategi Tangkal Serangan OPT pada Padi
2. Strategi Baru Kendalikan OPT Padi Dibahas di Ngobras Penyuluh
3. Kementan Dorong Penyuluh Gunakan Musuh Alami untuk Lawan Hama Padi

Jakarta – Upaya memperkuat swasembada pangan terus dilakukan pemerintah melalui pengendalian organisme pengganggu tumbuhan (OPT) pada padi. Kementerian Pertanian, lewat Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP), kembali menggelar Ngobrol Asyik (Ngobras) Bersama Penyuluh edisi ke-32 secara daring, Selasa (23/9/2025).

Mengusung tema “Gunakan OPT Utama pada Tanaman Padi”, kegiatan ini menyoroti ancaman hama yang dapat menurunkan produktivitas petani. Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menekankan perlunya penguatan peran POPT di seluruh daerah. “Ancaman hama semakin meningkat akibat perubahan iklim. Pengendalian harus dilakukan secara terpadu dan berkelanjutan,” ujar Amran.

Sejalan dengan itu, Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyebut pengendalian OPT penting untuk menjaga produksi dan kualitas hasil pertanian. “Dengan strategi yang tepat, swasembada pangan bisa tercapai,” ucapnya.

Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian, I Gusti Made Ngr. Kuswandana, juga mengingatkan agar penyuluh tidak bergantung pada pestisida kimia. Menurutnya, penggunaan musuh alami seperti parasitoid dan predator, teknik agroekologi, serta pemanfaatan refugia merupakan pilihan yang lebih ramah lingkungan.

Dalam diskusi tersebut, Petugas POPT Kabupaten Bogor, Jenita Faradiba, menjabarkan sejumlah OPT utama yang menyerang padi, mulai dari penggerek batang, tikus, wereng cokelat, hawar daun bakteri, hingga tungro. Ia memaparkan gejala serangan serta strategi pengendaliannya.

Sebagai contoh, pengendalian tikus dapat dilakukan melalui pola tanam teratur, pemasangan perangkap, hingga memanfaatkan burung hantu sebagai predator alami. Sementara wereng cokelat bisa ditekan dengan varietas tahan, agens hayati, serta pengamatan intensif.

“Penyuluh dan POPT di lapangan harus bekerja sama. Kolaborasi ini akan memperkuat ketahanan pangan nasional,” ujar Jenita menutup sesi diskusi.(*)

Berita Terkait

Kerja Sama BRICS Buka Peluang Percepatan Modernisasi Pertanian dan Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

Kerja Sama BRICS Buka Peluang Percepatan Modernisasi Pertanian…

Indore, India – Kerja sama negara-negara BRICS membuka peluang strategis bagi Indonesia…
Petani Asli Papua Dukung Program Cetak Sawah, Sebut Bantu Ketahanan Pangan dan Ekonomi Warga

Petani Asli Papua Dukung Program Cetak Sawah, Sebut…

Jakarta – Dukungan terhadap program cetak sawah di Papua terus menguat dari…
Tanggapi Film Pesta Babi, Mentan Amran Tegaskan Pengembangan Pangan Papua untuk Kepentingan Rakyat

Tanggapi Film Pesta Babi, Mentan Amran Tegaskan Pengembangan…

Jakarta – Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa Proyek Strategis…