- Juni 22, 2025
Siap Swasembada Pangan, Kementan Dorong Peran Aktif Penyuluh melalui Pemanfaatan Poligon
JAKARTA – Poligonisasi merupakan metode pemetaan spasial yang memanfaatkan teknologi seperti citra satelit dan Sistem Informasi Geografis (GIS) untuk mendelineasi batas lahan pertanian secara akurat.
Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman menekankan bahwa poligon dan peta digital bukan hanya alat, tapi instrumen strategis untuk optimasi penggunaan lahan dan peningkatan produktivitas pangan.
Bahkan Mentan Amran mendorong keterlibatan penyuluh, gapoktan, petani milenial, dan mahasiswa untuk mempercepat pemanfaatan teknologi GIS dalam praktik lapangan.
Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Pertanian (BPPSDMP) menyatakan bahwa poligon bukan sekadar alat teknis, melainkan instrumen penting untuk memperkuat fungsi penyuluh dalam pendampingan petani, pengumpulan data valid, dan penyusunan strategi pemanfaatan lahan.
“Poligon ini sangat membantu dalam kegiatan menyusun strategi tanam, identifkasi potensi dan kendala lahan, perencanaan cetak sawah dan optimalisasi Luas Tanbah Tanam (LTT)”, ucap Kabadan Santi.
Sedangkan menurut Kepala Pusat Penyuluhan Pertanian (Kapusluhtan), Tedy Dirhamsyah mengatakan bahwa penyuluh pertanian memainkan peran penting terkait pemetaan lahan pertanian poligon.
“Penyuluh Pertanian dapat bertugas mengumpulkan data di lapangan, mengidentifikasi potensi lahan, membantu petani dalam perencanaan tanam, dan memanfaatkan informasi poligon untuk meningkatkan produktivitas dan keberlanjutan pertanian”, ungkap Tedy.
Menindaklanjutinya, pada acara Mentan Sapa Petani dan Penyuluh (MSPP) dengan tema “Pembuatan Poligon di Lahan Poktan Pertanaman Padi untuk Mendukung Pencapaian Swasembada Pangan”, dilaksanakan Jum’at (20/06/2025) menghadirkan narasumber Direktur Pemetaan Lahan dan Irigasi Pertanian, Andy Wijanarko dan Kepala Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian (Kapusdatin), Intan Rahayu.
Andy menyampaikan dukungan dari pemetaan lahan dan irigasi pertanian terkait dengan poligon ini yaitu terkait pengolahan data pengolahan data Geospasial hasil pengolahan LTT, dan penyajian data hasil geospasila LTT. Untuk pengumpulan data spesial poligon LTT menggunakan sistem infrastruktur yang telah dibangun oleh Pusdatin .
“Harapannya adalah dengan adanya kegiatan poligon ini, maka para penyuluh pertanian dapat mengimplementasikan hasil poligonnya untuk keperluannya. Tidak hanya LTT, akan tetapi untuk Oplah cetak sawah dan yang lainnya. Karena pemanfaatan kegiatan poligon ini untuk mendukung kegiatan utama Kementerian Pertanian, yaitu swasembada pangan”, jelasnya.
Sementara, Intan menjelaskan proges percepatan pencapaian program swasembada pangan melalui kegiatan LTT. Saat ini target LTT nasional padi pada bulan Juni sebesar 1.678.617 hektare yang terdiri dari Reguler 1,5 juta hektare, Oplah 100.000 hektare dan pagi gogo 10.000 hektare.
Untuk kegiatan poligon ini diperlukan pemetaan secara periodik dan perlu dilakukan evaluasi, dengan pertimbangan terhadap alih fungsi lahan atau terjadinya perubahan batas lahan, dan perubahan administrasi seperti adanya pemekaran wilayah dan sebagainya.
“Harapannya, dengan adanya poligon ini dapat membantu penyuluh dalam memetakan lahan pertanian secara akurat, termasuk luas dan batas-batasnya. Sedangkan data poligon ini digunakan untuk perencanaan tanam yang lebih efektif, seperti menentukan jenis tanaman yang cocok, teknik budidaya, dan jadwal tanam”, jelas Intan.
Terakhir, melalui poligon ini diharapkan penyuluh dapat memberikan data yang lebih akurat dan terperinci kepada pihak terkait, yaitu Kementerian Pertanian dan Badan Pusat Statistik (BPS). (NS/NF)