- Mei 26, 2024
Cegah Serangan OPT, Ini Tips dari Kementan
SUKOHARJO—Kementerian Pertanian saat ini terus mendorong peningkatan produksi pangan. Untuk keberhasilan tanam harus dimulai saat pengolahan tanah dan persemaian, termasuk mencegah secara dini gangguan hama penyakit kerap mengganggu tanaman petani.
Dirjen Tanaman Pangan, Kementerian Pertanian, Suwandi memberikan tips untuk keberhasilan tanam. Untuk pengolahan lahan, petani harus membalikkan tanah (singkal) secara sempurna. Kemudian mengatasi serangan hama dan penyakit sejak dini.
Misalnya, Suwandi mencontohkan, untuk mengendalikan hama tikus, sebaiknya pengandalian dilakukan saat olah tanah atau sebelum mulai tanam. ”Jadi saat olah tanah, jika ditemukan lubang tikus, maka harus dicermati. Jangan sampai saat sudah tanam baru dikendalikan. Ini akan percuma. Karena jika ada sepasang tikus, maka akan melahirkan sebanyak lima pasang tikus. Artinya akan ada 10 tikus,” katanya.
Saat kunjungan kerja ke Desa Karakan, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu, (25/5), Suwandi menngatakan, setelah pengolahan tanah selesai dan membersihkan jerami yang ada di lahan, petani mesti memperhatikan tahap persemaian, khususnya dalam penggunaan benih.
Untuk itu, ia menyarakan agar petani menggunakan varietas padi unggul yang tahan hama penyakit dan tahan kekeringan, serta lakukan pergantian varietas. Dengan pergantian varietas, Suwandi yakin dapat memotong siklus hama dan penyakit, serta dapat meningkatkan produksi. “Jangan yang ditanam itu-itu terus. Paling tidak 3 musim harus ganti,” tegasnya.
Kemudian, dalam waktu tiga hari sekali, Suwandi meminta petani mengecek kondisi persemaian. Jika ada tanda-tanda serangan hama, maka harus segera diatasi. “Jangan kita memindahkan hama yang dipersemaikan ke persawahan,” ujarnya.
Saat ini OPT utama yang sering menyerang tanaman padi adalah wereng dan penggerek batang padi. Untuk itu, Suwandi mengingatkan petani dalam pengendalian hama penyakit tersebut sebaiknya menggunakan Agensia Pengendali Hayati (APH). Dengan pestisida nabati tersebut, petani bisa lebih hemat.
“Jangan sampai keluar biaya. Gunakan bahan-bahan alami yang lebih ramah lingkungan. Bagaimana cara membuat APH, nanti Petupas POPT yang akan mengajari,” ujar Suwandi yang dalam kunjungan tersebut banyak menampung aspirasi petani.
Pada kesempatan itu Suwandi juga mengajak petani untuk melakukan percepatan tanam. Dalam jangka waktu 14 hari setelah panen, petani bisa langsung tanam lagi. Hal itu berdasarkan arahan Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman.
“Lahan disini yang sedang tanam seluas 176 ha. Sesuai arahan Bapak Menteri (Mentan Andi Amran Sulaiman) untuk percepatan tanam, harapannya adalah dalam panen ke tanam (jangka waktunya) 14 hari,” ucap Suwandi.
Selain itu, ia juga mengatakan, Sukoharjo adalah kabupaten terbaik ke-4 di Jawa Tengah. Dari 20 ribu ha luas tanam, sekitar 10 ribu ha sudah mencapai IP 400 dengan produktivitas mencapai 8,6 ton/ha. Bahkan saat ini sudah banyak wilayah lain yang belajar kepada petani di Sukoharjo, terutama bagaimana pola tanam IP 400.
Dalam kunjungan tersebut, Suwandi juga memanfaatkan kesempatan untuk menampung aspirasi para petani. Menurutnya, ada banyak usulan atau permintaan petani guna meningkatkan produktivitas tanaman. Diantaranya bantuan traktor roda empat, pompanisasi hingga sumur dalam.
Suwandi juga menyarankan kepada petani, jika nanti sudah panen, maka Perum Bulog siap menampung atau membeli gabah petani. Nantinya Bulog akan membeli sesuai ketentuan pemerintah. “Kalau ada harga gabah yang jatuh tolong beritahu, nanti petugas atau penyuluh yang akan menginfokan ke Bulog,” katanya.
Bulog akan menyerap atau membeli gabah kering panen (GKP) dengan kadar air 25 persen dan kadar hampa 10 persen dengan harga Rp 6.000/kg. Sedangkan untuk Gabah Kering Giling (GKG) dengan kualitas kadar air 14 persen dan kadar hampa 3 persen, harganya Rp 7.400/kg dan beras Rp 11.000/kg.
“Jika kondisi gabah di luar ketentuan itu, Bulog juga bisa dengan mekanisme komersial. Ada rafaksinya nanti sesuai kondisi kadar air gabahnya,” katanya. *