• Desember 27, 2022

Pelantikan Peragi 2022-2026

Pelantikan Peragi 2022-2026

PERAGI bertekad memberikan solusi bagi bangsa Indonesia terhadap kondisi pangan di tanah air. Indonesia memiliki beban berat karena petani Indonesia harus memberi makan 275-juta penduduk. Populasi Indonesia berada di posisi ke-4 dunia setelah China, India, dan Amerika. Bandingkan dengan populasi Vietnam yang hanya 98,18-juta penduduk dan Thailand yang hanya 70,2-juta. Petani Indonesia harus memberi makan penduduk 3-4 kali lipat dari petani Vietnam danThailand.

Angka-angka di atas membuat kita harus bekerja keras. Beras merupakan produk pangan yang ketersediaanya tergantung musim dan tersebar di wilayah sentra. Ada suatu waktu beras melimpah di saat panen raya, tetapi di suatu waktu beras minim karena sedang musim tanam dan bera. Ada suatu daerah yang surplus dan ada suatu daerah yang defisit. Akses penduduk di sebuah daerah terhadap beras berbeda-beda tergantung waktu dan lokasi geografisnya.

Indonesia harus tetap optimis karena masih termasuk negara berswasembada beras dengan impor beras hanya 1,6% dari kebutuhan konsumsi rakyatnya. FAO memberikan toleransi setiap negara yang kurang dari 10% impor sebagai negara berswasembada. Pemerintah mengimpor sebagai wujud agar rakyat nyaman karena cadangan beras pemerintah aman.

Namun, produktivitas rata-rata nasional yang hanya 5,25 ton gabah kering giling/ha berada pada kondisi stagnan sepanjang 10 tahun terakhir di bawah potensi genetik padi. Pertumbuhan produksi juga kalah dibanding laju pertumbuhan penduduk Indonesia. Kondisi ini harus diwaspadai sehingga PERAGI berpeluang mempersempit jarak antara produktivitas aktual dengan produktivitas genetik hasil penelitian.

PERAGI harus membantu mencari jalan keluar dari ketergantungan besar dengan mengembangkan pangan lokal sebagai pangan utama berbasis sumberdaya. “Maqam pangan lokal sejajar dengan beras sehingga masyarakat yang konsumsi pangan lokal tidak merasa rendah diri,” kata Prof. Andi Muhammad Syakir.

Terdapat tiga strategi meningkatkan produksi beras: 1) modifikasi agronomik-genetik, 2) modifikasi agronomik-budidaya, dan 3) modifikasi agronomik-sumberdaya lahan. Semuanya mengarah ke sistem agronomi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Modifikasi agronomik-genetik dilakukan dengan pemuliaan seperti seleksi, penyilangan, rekayasa genetika melalui genome editing dan mutasi, bioreaktor untuk menghasilkan dan introduksi benih unggul. Dari waktu ke waktu, varietas unggul perlu terus di-improve dengan berbagai target: peningkatan kuantias-kualitas hasil, adaptasi lingkungan marjinal, resistensi hama-penyakit, efisiensi penggunaan sumberdaya lahan-hara-air-tenaga kerja dll, serta kandungan nutrisi fungsional.

Sementara modifikasi agronomik-budidaya contohnya pola dan rotasi tanaman, pengaturan musim tanam, cara pengolahan lahan, optimasi tata tanam, optimasi fungsi fisiologi fotosintesis-respirasi-akumulasi dan translokasi asimilat menjadi bahan panen untuk meningkatkan indeks panen, water foot-print, energy foot-print, dst.
Terakhir modifikasi agronomik-sumberdaya lahan dapat kita lakukan dengan strategi land improvement dibarengi dengan konservasi berkelanjutan. Beberapa teknologi yang dapat dikembangkan antara lain perbaikan sifat fisik-kimia dan biologi tanah serta pengembangan dan konservasi tanah dan air.
Dengan tiga modifikasi tersebut capaian potensi genetik produktivitas tanaman padi dapat optimal dan efisien pada berbagai ragam agroekosistem (padi sawah irigasi, sawah tadah hujan, padi gogo, padi pasang surut, dan padi di antara tanaman tahunan).
Meningkatnya produktifitas padi yang efisien pada berbagai ragam agroekosistem bukan hanya meningkatkan produksi padi nasional, tetapi juga mengembangkan padi fungsional agar dapat berdampak meningkatkan kesejahteraan petani termasuk yang berlahan sempit.
Penting juga untuk menjadi perhatian kita bersama, bahwa pengembangan teknologi agronomis memerlukan kerja sinergis lintas disiplin. Keunggulan kempetitif dan komparatif yang bernilai tambah dan mensejahterakan di masa kini dan ke depan haruslah juga dibarengi pendekatan pertanian secara presisi, antara lain mengotimalkan mekanisasi dan digitalisasi, dilengkapi dengan pembenahan sistem rantai pasok.

Dapat kita kristalkan, bahwa penerapan ilmu agronomi yang tepat serta terintegrasi dan sinergi kiranya merupakan terapi efektif untuk keluar dari kontraksi pangan dan kemiskinan.

Pelantikan kali ini dihadiri secara langsung oleh Prof. Dr. Ir. Justika Baharsjah, M.Sc, Ketua Dewan Penasihat dan secara daring oleh Dr. Ir. Andi Amran Sulaiman, M.P, Ketua Dewan Pembina serta dibuka oleh Dr Musdhalifah Machmud, Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan Agribisnis, Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia.

Musdhalifah berharap PERAGI mampu bersama-sama pemerintah memberi arah bagi pembangunan pertanian Indonesia. Dengan cara itu maka kebijakan pemerintah dapat diambil berbasis ilmu pengetahuan.

Salam hormat,

Prof. Andi Muhammad Syakir
Ketua Umum PERAGI
2022-2026

Berita Terkait

Penguatan Produksi Pertanian Berbasis Bio Fermentor dalam Mendukung Swasembada Pangan

Penguatan Produksi Pertanian Berbasis Bio Fermentor dalam Mendukung…

JAKARTA – Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Pusat Penyuluhan Pertanian kembali menyelenggarakan agenda…
Usai Australia, Kini Giliran India Sambangi Wamentan Sudaryono Lirik Pupuk RI

Usai Australia, Kini Giliran India Sambangi Wamentan Sudaryono…

Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan), Sudaryono memastikan ketersediaan pupuk Indonesia aman…
Perintah Presiden di Kebut: Mentan Amran bersama BUMN percepat B50 dan E20

Perintah Presiden di Kebut: Mentan Amran bersama BUMN…

Padang – Kementerian Pertanian (Kementan) bersama BUMN mempercepat pengembangan bioenergi nasional, mulai…