- Desember 23, 2022
Alpukat Varietas Pameling, Alpukatan Unggulan Asal Malang
Alpukat varietas Pameling yang dikembangkan di Desa Wonorejo, Lawang, Kabupaten Malang menjadi percontohan optimalisasi kelompok petani di Indonesia, mereka mampu menyediakan benih pohon alpukat plus bonus konsultasi dan bimbingan teknis kepada petani.
Ketua Dewan Komisioner (DK) Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Wimboh Santoso mengatakan,
“Menjadi salah satu ekositem produk pertanian alpukat dan akan kita kembangkan prosesingnya, selain dijual sebagai alpukat untuk dimakan tetapi juga bisa dibuat produk lainnya yang bisa menyerap tenaga kerja, nanti akan dihubungkan dengan ekosistem ekspor ini tidak hanya satu tempat tapi akan dikembangkan ke seluruh Indonesia,” kata Wimboh,
Alpukat pameling memiliki keistimewaan ukurannya lebih besar dengan bentuk yang agak lonjong, satu buah bisa memiliki berat 600 gram hingga 2 kilogram, memiliki buah tebal, berwarna kuning dengan biji yang kecil dan produktivitas pohonnya cukup banyak, satu pohon bisa menghasilkan 400 kilogram buah.
Alpukat yang berkualitas tinggi dan akan terus dikembangkan dan diproses supaya memberikan penyerapan tenaga kerja dan juga untuk ekspor, jika ini dilakukan akan memberikan dorongan ekonomi kita tentunya orientasinya ekspor, pemerintah akan hadir melihat dan membantu ekosistem ini sampai pada ekspor.
Malang menjadi sentra pengembangan benih alpukat pameling di Indonesia. Selain di Lawang, Kabupaten Malang juga punya kebun alpukat pameling di wilayah Wajak. Per pohon bisa menghasilkan Rp 6 juta dari panen alpukat pameling. Ketika analisa ekonominya tinggi petani akan tanam alpukat pameling, sudah ditanam 50 hektare di Wajak umur 2 tahun, yang ditanam di lahan warga, produktifitas 1 pohon 400 kilogram dengan harga Rp 30 ribu bisa menghasilkan Rp6 juta/ pohon.
Ketua Gapoktan Karya Makmur, Dadang Pramudya mengatakan, bahwa budidaya alpukat pameling sudah dilakukan sejak 2016 lalu, tetapi meledak lagi dalam satu tahun terakhir, pada tahun ini pembenihan alpukat pameling kembali bergairah, saat ini sudah ada 8 ribu benih targetnya bisa mencapai 1 juta benih.
“Dulu petani menjual hanya sekedarnya, sekarang lebih dari itu, bisa ekspor dan diolah. dulu kami khawatir mau dijual kemana, sekarang antusias karena sekarang sekilo bisa Rp30 ribu lebih, sekarang berbondong-bondong menanam alpukat karena 10 ton sekali panen, dan ini tidak mengenal musim satu tahun bisa dua atau tiga kali panen,” tandas Dadang.
Kontributor : Ircham Riyadi